<body> this is my territory <body>
Welcome
my dinner-in-waiting

1. here are the disclaimer
2. here are the rules
3. here is the dress code


add some music from here
Program Kreativitas Mahasiswa
Kamis, 22 November 2007

A.JUDUL PROGRAM

PEMANFAATAN LILIN LEBAH SEBAGAI MATRIKS PENYAMPAIAN OBAT TERKONTROL

B.LATAR BELAKANG

Sejalan dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dibidang Farmasi, maka banyak usaha yang dilakukan untuk meningkatkan mutu suatu obat. Untuk itu dikembangkan suatu sediaan sistem pelepasan terkontrol yang dapat menghasilkan kadar obat dalam darah yang merata, memberikan durasi obat yang cukup panjang tetapi yang tidak membahayakan tubuh dan dapat diterima dengan baik oleh pasien (Ansel,1989)

Kegunaan terbanyak lilin lebah kini adalah untuk kosmetik, pembuatan lilin dan industri perlebahan.Berbagai formula untuk krim, salep,losion cairan pembersih, pomade, lipstick, gincu (rouge), salep dan pelapis pil.Berbagi perekat, krayon, permen kunyah dan tinta juga mengandung lilin lebah.Titk lebur lilin lebah murni berkisar antara 610-690 C ( 142- 156 0 F ). Indeks refraksinya 1,44. Tahanan dielektrisnya 2,9 dan padat jenis 200 C adalah 0,96, lebih ringan dari air. Ia tak larut dalam air dan sdikit larut dalam alkohol dingin. Benzene chloroform, karbon disulfida, eter dan beberapa minyak terbang melarutkan lilin lebah komplit. Bau dan rasanya khas redam dan terbakar dengan nyala kuning bersih dan mengeluarkan aroma unik. Lilin lebah sering terkontaminasi dengan sdikit polen, propolis dan madu yang meningkatkan padat jenis dan warnanya. Warna malam disebabkan oleh pigmen yang terkandung dalam polen dan propolis dan mungkin dari besi oksida yang berkontak dengan metal besi.(Sihombing,1992)

Metode untuk mengontrol pelepasan zat aktif dari suatu sediaan, melibatkan difusi. Difusi merupakan pergerakan molekul obat dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Pendekatan metode yang melibatkan difusi antara lain: (1) Penyalutan inti obat dengan polimer yang tidak larut air, (2) Obat padat didispersikan dalam matriks yang tidak larut, (3) Inti obat disalut dengan membran yang larut sebagian.

(Abdou,1998)

Lilin merupakan produk lebah yang dihasilkan oleh kelenjar lilin yang terdapat pada perut bagian bawah lebah madu. Lilin lebah bermanfaat sebagai bahan baku dalam berbagai industri diantaranya industri farmasi, namun sejauh ini belum pernah dilakukan pemanfaatan lilin lebah sebagai matriks penyampain obat terkontrol. Metode untuk mengontrol pelepasan zat aktif dari suatu sediaan, melibatkan difusi yang merupakan pergerakan molekul obat dari daerah dengan konsentrasi tingi ke konsentrasi rendah. Pendekatan ini melibatkan difusi obat padat didesfersikan dalam matriks yang tidak larut sebagai pengontrol pelepasaan zat aktif dari suatu sedian. Lilin lebah merupakan suatu bahan yang tidak larut dalam air sehingga dapat di dibuat sebagai matriks penyampain obat terkontrol.

C. PERUMUSAN MASALAH

Lilin lebah merupakan produk lebah yang dihasilkan oleh kelenjer lilin yang terdapat pada perut bagian bawah lebah madu. Lilin lebah bermanfaat sebagai bahan baku dalam berbagai industri diantaranya industri farmasi. Namun sejauh ini belum pernah dilakukan penelitian tentang penggunaan lilin lebah sebagai matriks penyampaian obat terkontrol

D. TUJUAN PROGRAM

Adapun tujuan program ini adalah :

Untuk memanfaatkan lilin lebah dalam industri farmasi sebagai matriks penyampaian obat terkontrol

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN

Luaran yang diharapkan adalah publikasi tentang pemanfaatan lilin lebah sebagai matriks penyampaian obat terkontrol pada jurnal ilmiah, selain itu dapat dibuat alternatif penggunaan lilin lebah sebagai matriks penyampaian obat terkontrol dalam industri farmasi.

F.KEGUNAAN PROGRAM

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk :

a. Memberikan informasi mengenai pemanfaatan lilin lebah sebagai matriks pelepasan obat secara terkontrol

  1. Bermanfaat bagi dunia pendidikan, penelitian, serta sebagai bahan informasi

masyarakat umum,industri farmasi dalam pemanfaatan lilin lebah.

G. TINJAUAN PUSTAKA

I. Lebah Madu (Apis andreniformis Smit)

Menurut D.T.H. SIHOMBING (1992), lebah termasuk hewan serangga, atau insekta. Penggolongan zoologis lebah madu adalah sebagai berikut.

Diantaranya Apis andreniformis Smit adalah lebah alam Indonesia yang membangun sarangnya di tempat-tempat terbuka dan sarangnya hanya terdiri dari satu sisiran yang digantungkan pada cabang pohon, loteng banguinan dan bukit-bukit batu yang terjal.

Kelas : Insekta.

Ordo : Hymenoptera.

Famili : Apiadae

Sub-famili : Bombinae

Genus : Apis

Spesies : Apis andreniformis Smit

Kehidupan lebah di sarang dan produksi madunya sangatlah menakjubkan. Pengaturan kelembapan dan ventilasi: Kelembapan sarang, yang membuat madu memiliki kualitas perlindungan tinggi, harus dijaga pada batas-batas tertentu. Pada kelembapan di atas atau di bawah batas ini, madu akan rusak serta kehilangan kualitas perlindungan dan gizinya. Begitu juga, suhu sarang harus 35°C selama sepuluh bulan pada tahun tersebut. Sarang yang dibangun lebah dapat menampung 80 ribu lebah yang hidup dan bekerja bersama-sama, dengan menggunakan sedikit bagian dari lilin lebah. Sarang tersebut tersusun atas sarang madu berdinding lilin lebah, dengan ratusan sel-sel kecil pada kedua permukaannya. Semua sel sarang madu berukuran sama persis. Kendatipun memiliki volume yang sama, jumlah lilin yang diperlukan untuk membangun sel segi enam lebih sedikit daripada untuk membangun sel segi tiga atau segi empat. Sel berbentuk segi enam memerlukan jumlah lilin paling sedikit dalam pembangunannya, dan menyimpan madu paling banyak. Satu hal lain yang dipertimbangkan ketika membangun sarang madu adalah kemiringan sel. Dengan menaikkan kemiringan sel 13 pada kedua sisinya, lebah mencegah sel berposisi sejajar dengan tanah. Dengan demikian, madu tidak akan bocor dari mulut sel. Selagi bekerja, lebah madu saling bergelantungan membentuk lingkaran dan bergerombol. Dengan melakukan hal ini, mereka menghasilkan suhu yang dibutuhkan untuk produksi lilin. Kantung kecil dalam perut mereka memproduksi cairan transparan, yang mengalir keluar dan mengeraskan lapisan lilin tipis. Lebah mengumpulkan lilin dengan menggunakan kait kecil pada kakinya. Mereka memasukkan lilin ini ke dalam mulut, lalu mengunyah serta memprosesnya sampai lilin tersebut cukup lunak, dan membentuknya dalam sel. Sejumlah lebah bekerja bersama untuk menjaga suhu yang dibutuhkan tempat kerja mereka, agar lilin tersebut tetap lunak dan mudah dibentuk.( http://...@harunyahya.com)

I.1. Malam ( Lilin-lebah, wax )

Ada tiga jenis lilin yang dikenal di alam, yakni yang berasal dari hewan, tumbuhan atau petroleum atau menieral. Lilin asal hewan yakni malam ( beeswax ) adalah salah satu lilin yang kimianya stabil dan terkenal sepanjang sejarah perdagangan dunia. Malam adalah lilin yang paling baik sedunia dan dihasilkan dari lebah pekerja dariempat pasang kelenjar yang terdapat dibagian samping bawah perut. Puncak sekresi malam adalah saat lebah pekerja berumur dua minggu. Satu komsumsi lebah mengkonsumsi sekitar 10 kg madu untuk menghasilkan 1 kg malam.

Kegunaan terbanyak malam kini adalah untuk kosmetik, pembuatan lilindan industriperlebahan. Pelbagai formula untuk krim, salep, losion cairan pembersih, pomade, lipstick, gincu (rouge), salep dan pelapios pil.Pelbagi perekat, krayon, permen kunyah dan tinta juga mengandung malam.

Titk lebur malam murni berkisar antara 610-690 C ( 142- 156 0 F ). Indeks refraksinya 1,44. Tahanan dielektrisnya 2,9 dan padat jenis 200 C adalah 0,96, lebih ringan dari air. Ia tak larut dalam air dan sdikit larut dalam alkohol dingin. Benzene chloroform, karbon disulfida, eter dan beberapa minyak terbang melarutkan malam komplit. Bau dan rasanya khas redam dan terbakar dengan nyala kuning bersih dan mengeluarkan aroma unik. Malam sering terkontaminasi dengan sdikit polen, propolis dan madu yang meningkatkan padat jenis dan warnanya. Warna malam disebabkan oleh pigmen yang terkandung dalam polen dan propolis dan mungkindari besi oksida yang berkontak dengan metal besi.

Malam adalah campuran bahan kimia organik yang sangat kompleks, terdiri dari 12-14% berantai panjang, rantaian hidrokarbon-ganjil dengan C21-C33. total komponen esternya 64% diantara mono-, di-, dan triester yang mencakup berturut-turut 35,14,dan 3% hidroksi mono- dan poliester, masing-masing 4 dan 8%. Ia jugfa mengandung 12% asam bebas, 3% asam ester dan 6-7% bahan tak teridentifikasi. Alkohol monohidrat adalh C12 hingga C32, diol C24 hingga C32, dan asam C12 hingga C34, dan hidroksi asam C12 hingga C32. gambaran ini hanya melukiskan penyederhanaan yang sangat kompleks saja. (Sihombing,1992)

I.1.2 Pengolahan Malam ( Lilin-lebah, wax )

Pelepasan tutup madu menghasilkan 0,453-0,906 kg (1-2 lb) malam per 43,5 kg (100 lb) madu terekstraksi. Oleh kelarutan titik lebur rendah dan padat jenisnya, malam mudah dipisah dari madu dan benda-benda asing. Setelah madu disaring atau disentrifus setelah dipanen dari sel sarang madu, dengan memanskan sisanya antara 66-710 C (150-1600 F) meleburkan malam dan mengapung di atas sisa madu, dan setelah didinginkan malam mudah diperoleh. Pelbagai model alat pengolahan madu untuk melepas madu dari sel sarang madu yang pada dasarnya semua menggunakan titik lebur dan padat jenis. Karena madu maupun malam dapat rusak oleh pemanasan berlebih, pengontrolan temperatur peralatan yang tepat sangat dibutuhkan. Janganlah malam dipanaskan melebihi 850 C karena warna akan berubah.

Cairan malam dapat disipon, disaring, atau dituang ke cetakan. Benda-benda asing seperti kotoran, debu, polen, propolis, dan resin akan mengendap di bagian bawah tangki atau cetakan. Bila diingini malam yang berkualitas tinggi, residu yang disebut slum gum harus disingkirkan. Ada pengolah malam yang akan membelinya dan harganya tergantung dari kadar malam yang masih mungkin diperoleh kembali.

Yang lebih banyak terkait adalah sarang yang telah tua. Dari sarang tua mungkin dapat diperoleh kembali 0,9006-1,3 kg malam dari satu peti sarnag tua atau sarang rusak. Sisiran saranf tetasan akan terisi dengan kulit tetasan dan pupa muda selain dari kotoran-kotoran lain, polen dan propolis. Melelehkan sisiran dalam air panas lalu disaring dengan saringan berlubang halus atau kain saring akan memisahkan debu dari malam. Setelah dingin, malam dapat diangkat dari permukaan air. Debu dapat dicuci dengan air panas beberapa kali untuk mendapatkan malam tambahan.

Alat pengolah yang besar membilas sisiran dengan air panas dalam kantung besar mengakibatkan malam mengapung di permukaan air dan mematangkan bahan lilin dari air panas atau uap panas. Pengekstraksian dari panas teoritis baik, namun hanya sekitar 50% malam dapat diperoleh dari sisiran. (Sihombing,1992)

II. Sediaan dengan pelepasan terkontrol

Tujuan utama dari suatu produk obat pelepasan terkontrol adalah untuk mencapai suatu efek terapetik yang diperpanjang disamping memperkecil efek samping yang tidak diinginkan yang disebabkan oleh fluktuasi kadar obat dalam plasma (Shargel dan Andrew,1998)

Istilah pelepasan terkontrol menunjukan bahwa obat dilepaskan dari sediaan sesuai dengan yang direncanakan dan pelepasannya lebih lambat dari sediaan konvensional sehingga akan memperpanjang kerja obat. (Ansel,1989)

Sistem sustained release termasuk sistem penyampaian obat yang menghasilkan pelepasan obat yang lambat selama priode waktu yang panjang. Jika sistem berhasil mempertahankan level obat konstan dalam darah atau jaringan target, disebut conrolled release. Jika tidak berhasil, tapi memperpanjang lama kerja melebihi dari yang dicapai oleh penyampaian secara konvensional, disebut prolonged release (Longer,1990)

Sedian conrolled release (A); prolonged release(B);sediaan konvensional(C)

Suatu produk obat sustaind realease dirancang untuk melepaskan suatu dosis terapetik awal obat (dosis muatan) yang diikuti oleh suatu pelepasan obat yang lebih lambat dan konstan. Laju pelepasan dosis penjagaan dirancang sedemikian agar jumlah obat yang hilang dari tubuh melalui eliminasi diganti secara konstan. Dengan produk sustained release konsentrasi obat dalam plasma yang konstan dapat dipertahankan dengan fluktuasi yang minimal.

Suatu produk obat prolonged action dirancang untuk melepaskan oabat secara lambat dan memberi suatu cadangan obat secara terus menerus selama selang waktu yang panjang. Produk obat prolonged action menjegah absorbsi obat yang sangat cepat, yang dapat mengakibatkan konsentrasi puncak obat dalam plasma yang sangat tinggi. Sebagian besar produk prolonged action memperpanjang lama kerja tetapi tidak melepaskan obat pada suatu laju yang tetap (Shargel dan Andrew,1998)

II.1. Kebaikan dan keburukan sediaan pelepasan terkontrol

II.1.2 Kebaikan sediaan pelepasan terkontrol

Sediaan pelepasan terkontrol dapat menahan pelepasan obat hingga frekuensi pemakaian obat menjadi lebih sedikit bila dibandingkan dengan sediaan konvensional sehingga memudakan penderita dan mengurangi resiko kesalahan atau kelupaan. Aktifitas obat meningkat baik siang maupun malam hari, mengurangi frekuensi kadar obat, mengurangi efek toksis, efek samping dan akumulasi obat pada pengobatan jangka panjang (Shargel dan Andrew,1998)

II.1.3 Keburukan sediaan pelepasan terkontrol

Keburukan sediaan ini adalah jika sediaan ini gagal dilepas pada waktu yang tepat akan mengakibatkan terjadinya kelebihan dosis. Adanya suatu reaksi samping obat atau keracunan obat, maka menghilangkan obat dari dalam tubuh menjadi lebih sulit. Adanya interaksi obat dan isi saluran cerna juga perubahan pergerakan saluran cerna menyebabkan absorbsi obat tidak menentu atau berubah-ubah.

(Shargel dan Andrew,1998)

II.2.Metode untuk mengontrol pelepasan zat aktif dari suatu sediaan

II.2.1 Metode melibatkan difusi

Difusi merupakan pergerakan molekul obat dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Pendekatan metode yang melibatkan difusi antara lain :

a. Penyalutan inti obat dengan polimer yang tidak larut air

Obat yang berdifusi melalui membran dan bertukar dengan cairan disekelilingnya. Contohnya: mikroenkapsulasi obat

b. Obat padat didispersikan dalam matriks yang tidak larut

Kecepatan pelepasan obat tergantung pada kecepatan difusi obat dan bukan kecepatan pelarutan obat. Contoh : matriks plastik metil-akrilat metakrilat yang berisi obat.

c. Inti obat disalut dengan membran yang larut sebagian

Pelarutan sebagian dari membran akan memberikan proses difusi yang mendesak obat keluar melalui pori yang terbentuk. Contoh: polimer penyalut yang terdiri dari etil selulosa dan metil selulosa.

Gambar 2. Pelepasan obat dengan metode yang melibatkan difusi

Keterangan

A. penyalutan inti obat dengan polimer yang tidak larut air

B. obat padat didespersikan dalam matriks yang tidak larut air

C. inti obat disalut dengan membran yang larut sebagian

II.2.2 Metode melibatkan disolusi

  1. Disolusi obat yang terlepas dikontrol oleh matriks yang terkikis perlahan-lahan. Contohnya obat yang dimikroenkapsulasi dimana obat terdistribusi merata dalam matriks terkikis perlahan-lahan.
  2. Disolusi obat yang terlepas dikontrol melalui ketebalan dan kecepatan disolusi lapisan barier membran. Dalam hal ini, obat yang disalut dengan suatu ketebalan penyalut akan terdisolusi perlahan-lahan. Pengikisan yang sempurna dari penyalut akan memberikan peranan penting dalam pelepasan obat segera. Jika sediaan terdiri dari tiga atau empat ketebalan berbeda diharapkan diperoleh sediaan kerja berulang. Contoh obat yang dienkapsulasi dimana seluruh obat didalam inti.

Gambar 3. Pelepasan obat dengan metode yang melibatkan disolusi

Keterangan

A. mikrokapsul obat terdistribusi merata dalam matriks dan salutnya dapat terkikis

B. Inti obat disalut dengan bahan yang larut secara lambat

II.3. Dasar-dasar penetapan kadar

Dua langkah utama dalam analisis adalah identifikasi dan estimasi komponen-komponen suatu senyawa. Lengkah identifikasi dikenal sebagai analisis kualitatif sedangkan langkah estimasinya adalah analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif dapat diklasifikasikan dengan dasar analilisnya. Pertama seseorang dapat membagi atas metode-metode yang mencakup metode-metode analisis klasik seperti gravimetri atau volumetri dan yang mencakup instrumentasi canggih, kemudian dikenal sebagi metode analisis modern.

Bila komponen yang analisis terdapat dalam konsentrasi yang sangat rendah, maka digunakan metode-metode optik atau metode spektroskopi seperti UV visibel, Spektroskopi IR, dengan penghamburan scattering, atau spektroskopi emisi dan absorpsi. (Khopkar,1990)

II.3.1 Spektrofotometri

Spektrofotometri serapan merupakan pengukuran suatu interaksi antara radiasi elektromagnetik dan molekul atau atom dari suatu zat kimia. Teknik yang sering digunakan dalam analisis farmasi meliputi spektroskopi serangan ultraviolet, cahaya tampak, inframerah, dan serapan atom. Jangkauan gelombang yang tersedia untuk pengukuran membentang dari panjang gelombang pendek ultraviolet sampai ke inframerah. Untuk kemudahan pengacuan, daerah spektrum ini pada garis besarnya dibagi dalam daerah ultraviolet (190 nm hingga 380 nm),daerah cahaya tampak (380 nm hingga 780 nm), daerah inframerah dekat (780 nm hingga 3000 nm) dan daerah inframerah (2,5 µm hingga 40 µm atau 4000 cm-1 hingga 250 cm-1).

Daya dari suatu berkas radiasi akan berkurang sebanding dengan jarak yang ditempuhnya dalam medium penyerap. Daya tersebut juga berkurang sebanding dengan kadar molekul atau ion yang menyerap dalam medium tersebut.

Penurunan daya radiasi monokromatis yang melalui medium penyerap yang homogen dinyatakan secara kuantitatif dalam hukum Lambert-Beer,

Log 10 (1/T) = A = a b c

Dimana : A = serapan (logaritma dasar 10 dari kebalikan transmitans)

a = absorbtivitas

b = panjang sel dalam cm

c = konsentrasi dalam sampel (Ditjen POM, 1995)

II.3.2 Spektofotometri ultraviolet

Pada umumnya senyawa yang hanya mempunyai transisi σ → σ* mengapsorbsi cahaya pada panjang gelombang sekitar 150 nm, sedangkan senyawa yang mempunyaio transisi n → σ* dan π → π* (disebabkan kromofor tidak terkonjugasi) menagbsorpsi cahaya pada panjang gelombang sekitar 200 nm. Senyawa yang mempunyai transisi π → π* mengabsorpsi cahaya di daerah ultraviolet kuarsa (200-400 nm). Daerah ultraviolet vakum (daerah dibawah 200 nm) tak akan ditinjau secara terperinci, karena daerah yang sukar untuk memperoleh spektrum dan informasi yang dapat diperoleh melalui struktur molekul organik sedikit sekali. Spektrum ultraviolet senyawa biasanya diperoleh dengan melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu (cahaya monokrom ekawarna) melalui larutan encer senyawa tersebut dalam pelarut yang tidak menyerap misalnya, air, etanol, heksana (Creswell dkk, 1982).

H. METODOLOGI PELAKSANAAN PROGRAM

a. Pengolahan Lilin lebah

Pengolahan dan pemurnian lilin lebah yang dilakukan dengan menggunakan prinsip titik lebur dan padat jenis. Dari sarang lebah yang telah dipanen, kemudian disentrifuse sehingga madu terpisah dari sisirannya, kemudian sisirannya dipanaskan pada suhu antara 66-71°C (150-160°F) sehingga akan meleburkan lilin lebah dan mengapung diatas sisa madu. Setelah dingin malam mudah diperoleh. Karena madu maupun malam dapat rusak oleh pemanasan berlebih, pengontrolan temperatur yang tepat sangat dibutuhkan. Janganlah lilin lebah dipanaskan melebihi 85°C karena warna akan berubah.

Pelepasan tutup madu menghasilkan 0,453-0,906 kg malam per 43,5 kg maduterekstraksi. Dari sarang tua mungkin dapat diperoleh kembali 0,906 – 1,3 kg lilin dari satu peti sarang tua atau sarang rusak ( Sihombing,1997 ).

b.Pemurnian Lilin Lebah

Cairan lilin lebah dapat disipon, disaring atau dituang ke cetakan. Benda-benda asing seperti kotoran, debu, polen, propolis dan resin akan mengendap dibagian bawah cetakan. Bila diingini lilin lebah berkualitas tinggi, residu yang disebut slum gum harus disingkirkan.

c. Pembuatan Sediaan Pelepasan Terkontrol

Sediaan pelepasan terkontrol dibuat dalam berbagai formula, dimana formula bentuk sediaan pelepasan terkontrol dibuat dengan variasi jumlah lilin lebah yang digunakan sebagai matriks. Zat yang akan didispersikan kedalam lilin lebah yang digunakan sebagi matriks dihomogenkan dan diisikan kedalam wadah kapsul.

d.Uji Disolusi

Uji disolusi dilakukan dengan alat paddle. Tiap-tiap uji terhadap sediaan kapsul dilakukan sebanyak 5 kali. Sediaan yang telah selesai dibuat diberi alat penahan kemudian dimasukkan kedalam wadah berisi 900 ml medium yang bersuhu 37 ± 0,5 °C. Kemudian diatur jarak paddle 2,5 cm diatas dasar wadah dan paddle diputar dengan kecepatan 100 putaran permenit. Interval waktu pengambilan aliquat 5, 10, 15, 30, 60, 90, 120, 150, 180, 210, 240, 300, 360, 420, dan 480 menit. Setelah pemutaran dipipet 5 ml aliquat dan diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum dengan menggunakan medium yang sama sebagai blanko. Volume cairan disolusi diusahakan tetap dengan menambahkan 5 ml medium. Jumlah zat yang terdisolusi dihitung dengan persamaan regresi kurva kalibrasi.

I. JADWAL KEGIATAN PROGRAM

Program ini dilaksanakan selama 6 bulan, dimulai pada bulan November 2007 s/d April 2008 dengan jadwal pelaksanaan program sebagai berikut :

NO

Kegiatan

Bulan

I

II

III

IV

V

VI

1

Pengolahan dan pemurnian lilin lebah

2

Orientasi

3

Prosedur kerja

4

Pengolahan data

5

Penyusunan laporan

6

Pengadaan laporan

J. NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA KELOMPOK

1. KETUA PELAKSANA KEGIATAN

a. Nama Lengkap : Ya’qub Alfin

b. NIM : 040804030

c. Fakultas/Program Studi : FF/Farmasi

d. Waktu Untuk Kegiatan PKMP : 24 jam/Minggu

2. ANGGOTA PELAKSANA

Aggota I

a. Nama Lengkap : Bayu Eko Prasetyo

b. NIM : 030804003

c. Fakultas/Program Studi : FF/Farmasi

d. Waktu Untuk Kegiatan PKMP : 24 jam/Minggu

Aggota II

a. Nama Lengkap : Nur Aira Juwita

b. NIM : 050804092

c. Fakultas/Program Studi : FF/Farmasi

d. Waktu Untuk Kegiatan PKMP : 24 jam/Minggu

K. NAMA DAN BIODATA DOSEN PEMBIMBING

1. Nama Lengkap Dan Gelar : Dr. Karsono, Apt

2. Golongan, Pangkat dan NIP : IIIC/ Penata /131 415 891

3. Jabatan Fungsional : Staff Pengajar

4. Jabatan Struktural : -

5. Fakultas/Program Studi : FF/Farmasi

6. Perguruan Tinggi : Universitas Sumatra Utara

7. Bidang Keahlian : Teknologi Formulasi

8. Waktu Untuk Kegiatan PKMP : 24 jam/minggu

L. BIAYA

No

Pos Biaya

Volume Unit

Jumlah

@ (Rp)

Jumlah Total (Rp)

1

Honorium

a. Dosen

1 org x 6 bln

200.000

1.200.000

b. Mahasiswa

3 org x 6 bln

150.000

2.700.000

Subtotal

3.900.000

2

Bahan dan Peralatan

- Sampel sarang lebah

1 sisiran

50.000

50.000

- Sewa sentrifiuse buatan

1 unit

50.000

50.000

- Medium lambung buatan

10 liter

15.000

150.000

- Aquadest

30 liter

800

24.000

- Termometer

1 unit

71.000

71.000

- Maat pipet 5 ml

2 unit

10.000

20.000

- Penahan kapsul

2 unit

5000

10.000

- Beaker Glass 1 liter

2 unit

50.000

100.000

- Masker

4 unit

1.500

6.000

- Sarung Tangan

4 unit

2.500

10.000

- Cawan Porselen

2 unit

7.000

14.000

- Kertas Perkamen

2 bungkus

1.000

2.000

- Spatula

1 unit

5.000

5.000

- Batang pengaduk

2 unit

4.000

8.000

- Penyaring lilin

2 unit

5.000

10.000

- Stop watch

1 unit

25.000

25.000

- Tissu lensa

1 bungkus

15.000

15.000

- Tissu gulung

1gulung

5.000

5.000

- Gelas ukur 25 ml

1 unit

42.000

42.000

subtotal

500.000

3

Akomodasi

-Pemakaian laboraturium

-

-

200.000

- Konsumsi

4 org x 10 hari

15.000

600.000

subtotal

800.000

4

Dokumentasi

- Film

1 rol

25.000

25.000

- Cuci cetak

1 rol

25.000

25.000

subtotal

50.000

5

Publikasi

- Penyusunan Laporan

-

-

200.000

- Penggandaan laporan

10 copy

15.000

150.000

Subtotal

350.000

6

Seminar Hasil Penelitian

- Materi seminar

-

-

200.000

- Konsumsi

-

-

200.000

Subtotal

400.000

Total Biaya

6.000.000

Terbilang (Enam juta rupiah)

M. LAMPIRAN

1.DAFTAR PUSTAKA

Abdou,H., (1989). Dissolution, Bioavaibility and Bioequivalence.

Pennsylvenia : Mack Publishing company. Page 11-17

Ansel, Howard.C., (1989). Pengantar Bentuk Sedian Farmasi. Edisi IV.Jakarta :

UI Press.Halaman.287-290

Creswell, Clifford J., Runquist, Olaf A., dan Campbell, Malcolm M. (1982).

Analisis Spektrum Senyawa Organik. Bandung : Penerbit ITB.Halaman.25,42

Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta : Depkes RI.

487-488

Khopkhar, S.M., (1990). Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI Press.Halaman.3,5

Longer, M.A., (1990). Sustained-Release Drug Delivery Systems. In : Remington’s

Pharmaceutichal Science. Gennaro, A.R., (Editor).18th edition. Pensylvania :

Mack Publishing Company. Page 459

Sihombing, D.T.H., (1992). Ilmu Ternak Lebah Madu. Cetakan Pertama. Yogyakarta:

UGM Press. Halaman. 7,147-148

Thombre,Avinash.G and Jhon R. Cardinal. (1996). Biopolymers for Controlled

Drug Delivery in Encyclopedia of pharmaceutical Technology. Volume

2. New York. Marcel Dekker Inc. Page 61-63

Yahya, H., (2006). Artikel - LEBAH MADU.htm. . http://...@harunyahya.com

2. DAFTAR RIWAYAT HIDUP

KETUA PELAKSANA KEGIATAN

Nama : Ya’qub Alfin

Tempat/Tanggal lahir : Pasir putih, 18 Januari 1986

Alamat : Jl.Pembangunan Gg.Merdeka No 5, Dr.Mansyur, Medan.

Agama : Islam

Golongan Darah : O

Status : Belum kawin

Jenis Kelamin : Laki-laki

Pekerjaan : Mahasiswa

Nama Orang Tua

a. Ayah : Muhammad Ramlan

b. Ibu : Hj.Mardiah Lbs

Pendidikan

a. Asal SD : SD Negeri 056027 Pasir putih Tamat tahun : 1998

b. Asal SLTP : MTsN Tanjung pura Tamat tahun : 2001

c. Asal SMU : SMA Dharma Patra, P.Brandan Tamat tahun : 2004

Pengalaman Bekerja

Asisten Laboratorium Teknologi Formulasi Tablet, FF USU : Tahun 2007 /2008

ANGGOTA PELAKSANA

ANGGOTA PELAKSANA I

Nama : Bayu Eko Prasetyo

Alamat : Jl.Pembangunan Gg.Merdeka No 5, Dr.Mansyur, Medan

Agama : Islam

Golongan Darah : B

Status : Belum kawin

Jenis Kelamin : Laki-laki

Pekerjaan : Mahasiswa

Nama Orang Tua

a. Ayah : Sudiyono

b. Ibu : Supeni

Pendidikan

a. Asal SD : SD N 020275 Binjai Tamat tahun : 1997

b. Asal SLTP : SMP N 1 Binjai Tamat tahun : 2000

c. Asal SMU : SMA N 1 Binjai Tamat tahun : 2003

Pengalaman Bekerja

Asisten Laboratorium Biofarmasi, FF USU : Tahun 2006/2007

ANGGOTA PELAKSANA II

Nama : Nur Aira Juwita

Alamat : T.Mulia, 16 Januari 1988

Agama : Islam

Golongan Darah : AB

Status : Belum kawin

Jenis Kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Mahasiswa

Nama Orang Tua

a. Ayah : Abd, Rasyid

b. Ibu : Nur Ainun

Pendidikan

a. Asal SD : SDN 060900 Medan Tamat tahun : 1999

b. Asal SLTP : SLTPN 2 Medan Tamat tahun : 2002

c. Asal SMU : SMUN 13 Medan Tamat tahun : 2005

Pengalaman Bekerja

-

DOSEN PEMBIMBING

Identitas pribadi

a. Nama lengkap dan gelar : Dr. Karsono, Apt

b. Tempat/tanggal lahir : Yogyakarta / 09-09-1954

c. Golongan/Pangkat/NIP : IIIC/ Penata /131 415 891

d. Jabatan :-

e. Alamat : Jl. Bunga Wijaya Kesuma Gg. XV No.6, P.Bulan

0618213947

Pendidikan

Stratum

Tgl/Thn

Tempat (Universitas/Kota)

Judul Disertasi/Tesis/Skripsi

S3/Sp2

1991

USM, Penang, Malaysia

Rekabentuk sistem baru pengahantaran obat polimer bioadesive

S2/Sp1

-

-

-

Profesi

(Apoteker)

1983

Fak.Farmasi UGM Yogyakarta

S1

1982

Fak.Farmasi UGM Yogyakarta

Penyalahgunaan Diazepam Di DI. Yogyakarta

Mata Kuliah Yang diasuh saat ini.

1. Menurut SK terakhir:

a. Biofarmasi

b. Farmakokinetika (S2Farmasi)

c. Farmakokinetika

d. Penyampaian Obat Terkontrol

e. Pengembangan Produk

f. Statistika

Penelitian yang dilakukan sesuai bidang ilmu yang diasuh 5 tahun terakhir (2002 s.d. 2007)

No.

Tahun

Judul

Jenis

Peran

1

2003

Sediaan Pelepasan Terkontrol : Formulasi dan Uji Disolusi Ketopropen

2

2004

Sediaan Pelepasan Terkontrol : Uji Disolusi Ketopropen Dalam Matriks Kitosan

3

2004

Sediaan Pelepasan Terkontrol : Pengaruh PEG 6000 Dalam Matriks Kitosan Terhadap Pelepasan Ibuprofen

4

2005

Polimer Bioadhesif : Uji Formulasi Topical Spray Kloramfenikol Dalam Matriks Polisianoakrilat Terhadap Penyembuhan Luka Sayat Ayam.

5

2005

Sediaan Pelepasan Terkontrol : Pengaruh Na-CMC Dalam Matriks Kitosan Terhadap Pelepasan Ketoprofen

Karya Ilmiah Sesuai Bidang Ilmu yang Dipublikasikan di Jurnal Nasional dan Internasional 5 tahun terakhir

No.

Judul Karya Ilmiah

Nama Jurnal Nasional/Internasional

Thn/No/Hal.

1

Uji Ketersediaan Hayati Bandingan Tablet Karbamazepin Dari Merk Dagang Yang Berbeda

Media Farmasi

2004

2

Sistem Penyampaian Obat Trans Mukosal Menggunakan Polimer Bioadhesif

Media Farmasi

2004

3

Sistem Penyampaian Obat Transcolon Melalui Pendekatan Farmaseutik

Media Farmasi

2005

4

Matriks Nata de Coco : Uji Pemerangkapan Dan Laju Disolusi Aspirin

Media Farmasi

2005

Menjadi Promotor/Co-Promotor/Penguji S2/S3 5 tahun terakhir (2002 s.d 2007)

Status

Waktu/Tempat

Provendus/Mahasiswa

Judul Tesis/Disertasi

Promotor S2

15-11-2003

SPS-USU

Samran

NIM: 017014008

Sediaan pelepasan terkontrol: Kitosan sebagai matriks sediaan tablet Press-Coating

Promotor S2

08-12-2006

SPS-USU

Sumaiyah

NIM: 037014007

Pembuatan sediaan Fero Sulfat dengan menggunakan kapsul kalsium alginatyang tidak memberikan efek iritasi pada lambung kelinci.

Promotor S2

01-03-2007

SPS-USU

Rahmi Hutabarat

NIM: 047014007

Uji antiagregasi trombosit dan keamanan terhadap saluran cerna dari aspirin dalam kapsul alginat