<body> this is my territory <body>
Welcome
my dinner-in-waiting

1. here are the disclaimer
2. here are the rules
3. here is the dress code


add some music from here
LO Tau Gak SeH,......,,,..!
Senin, 26 November 2007

Babi dalam Dunia Farmasi
Bagi konsumen Muslim babi adalah “jawara”-nya bahan yang diharamkan untuk dikonsumsi dan dimanfaatkan. Padahal babi sering dijadikan sebagai model untuk penelitian yang berkaitan dengan manusia, dikarenakan adanya kemiripan sistem penting dalam tubuhnya.
Keterlibatan babi dalam industri farmasi ternyata cukup signifikan. Mulai dari cangkang kapsul baik sebagai kapsul lunak, penyumbang organ-organ tubuh, dan hormon serta enzimnya.
Beberapa bagian dari babi yang pernah dan atau masih menyumbangkan perannya dalam industri farmasi adalah sebagai berikut :
Kelenjar adrenal Kelenjar ini terdapat pada ginjal. Kelenjar ini dapat menghasilkan hormon yang disebut sebagai steroid dan epinephrine. Hormon hormon yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal babi pernah merupakan sumber penting yang digunakan untuk mengatasi beberapa penyakit yang disebabkan oleh ketidakseimbangan tubuh. Namun sekarang hormon-hormon tersebut sudah banyak diproduksi secara sintetis.
Kelenjar pancreasSalah satu hormon yang dihasilkan oleh organ ini adalah insulin. Insulin sangat akrab dengan penderita diabetes. Insulin berfungsi untuk mengatur metabolisme gula dalam tubuh. Salah satu sumber insulin yang sudah tidak asing lagi digunakan dalam dunia kedokteran adalah insulin babi. Untuk menghasilkan 1 pound insulin didapatkan dari 60 ribu ekor babi serta diperkirakan mampu mengobati pasien diabetes sebanyak 750-1.000 orang selama setahun . Jika produksi babi pertahun sebanyak 85 juta maka insulin yang mampu dihasilkan selama setahun adalah 1.400 pound. Jumlah tersebut dapat mengobati pasien sebanyak 1, 050 juta – 1,4 juta pertahunnya. Jumlah yang cukup spektakuler.
Saat ini ada alternatif lain pengganti insulin seperti humulin yang walaupun lebih sedikit mahal, ternyata cukup diminati oleh pasien untuk mengganti hormon insulin babi.
LambungLapisan dalam lambung mengandung protein dan enzim. Bagian ini secara komersial digunakan untuk memproduksi sejenis bahan untuk membantu pencernaan (digestive aids) dan antacid.
Usus halusHeparin adalah bahan yang ditemukan secara ekslusif pada dinding dalam usus halus (babi). Heparin diklasifikasikan sebagai produk pharmaceutical yang esensial.
JantungJantung babi digunakan untuk keperluan transplantasi untuk mengganti katup jantung yang sudah tidak berfungsi lagi. Katup jantung babi yang digunakan pada manusia,ternyata sangat minimal mengalami penolakan pada tubuh manusia. Hal ini menunjukkan bahwa banyak kemiripan system vital yang terjadi pada manusia dan babi.
Kulit Kulit dalam bentuk gelatin digunakan dalam industri pembuatan kapsul. Selain itu kolagen yang merupakan bagian dari kulit digunakan untuk menstimulasi pembekuan darah selama operasi.
Darah Fibrin darah yang diekstraks dari darah babi digunakan untuk membuat asam amino yang menjadi bagian dari cairan infus yang ditujukan untuk memberikan nutrisi bagi pasien yang mengalami beberapa operasi tertentu. Darah babi juga dipergunakan untuk keperluan media microbial dan kultur sel.
Seberapa jauh pemanfaatan babi boleh digunakan dalam dunia farmasi yang masih dalam lingkup darurat ini boleh digunakan? Apakah kita sebagai konsumen muslim tidak akan mau beranjak dari kondisi darurat selamanya? Insya Allah jawabannya bias kita temukan pada acara Seminar Halal Nasional tentang Obat dan Kosmetika pada tanggal 17 April 2007 di Aula Universitas Yarsi.
( Elvina AR, Auditor LP POM MUI )

biofarmasi

ABSTRACT

Dissolution and bioeqivalency testing have been done to forms of drug Sulfadiazin. Dissolution test of tablet, capsule and sustained release formulations was conducted to figure out the influences of formulations to dissolution rate. The bioeqivalency test was done to see the influences of the route of administration to the bioeqivalency. The oral route of administration using capsule, tablet and sustained release, while the parenteral route was done intravenously and intramuscularly.
Dissolution test was done in vitro using pH 1,2 stomach medium and measured by ultraviolet spectrofotometry in wave length 254 nm.
The bioeqivalency test was done in vivo using consentration of drug in blood was determined by UV and Visible spectrofotometry using Bratton Marshall reagen in wave length 540 nm.
The in vitro experiment result shows that the rate of capsule dissolution is the most rapid and the dissolution of sustained release is the slowest of those three formulations.
The in vivo experiment result shows that the bioeqivalency of intravena is higher than the solution and sustained release.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang
Studi bioavailabilitas/ ketersediaan hayati (BA) dan atau bioekivalensi/kesetaraan biologi (BE) memainkan peranan penting dalam suatu periode pengembangan obat baru dan ekivalensi generiknya. Kedua studi itu penting juga untuk menyetujui adanya perubahan dalam manufacturing / formulasi produk obat. Bioavailabilitas dan Bioekivalensi seringkali dinyatakan dalam luas di bawah kurva (area under curve) konsentrasi obat dalam plasma darah - waktu (AUC) dan konsentrasi maksimum obat dalam plasma darah (Cmax). Dari profil tersebut dapat diinterpretasikan tersedianya kadar obat dalam plasma darah yang memadai yang dapat dipertahankan dalam rentang waktu tertentu sehingga obat tersebut dapat menghasilkan efek terapi yang diinginkan. Bioavailabilitas/ketersediaan hayati (BA) dapat didefinisikan sebagai rate (kecepatan zat aktif dari produk obat diabsorpsi/diserap di dalam tubuh ke sistem peredaran darah) dan extent (besarnya jumlah zat aktif dari produk obat yang dapat masuk ke sistem peredaran darah), sehingga zat aktif/obat tersedia pada tempat kerjanya untuk menimbulkan efek terapi/penyembuhan yang diinginkan. Bioekivalensi/kesetaraan biologi (BE) dapat didefinisikan, tidak adanya perbedaan secara signifikan/bermakna pada rate dan extent zat aktif dari dua produk obat yang memiliki kesetaraan farmasetik, misalnya antara tablet A yang merupakan produk obat uji dan tablet B yang merupakan produk obat pembanding (inovator), sehingga menjadi tersedia pada tempat kerja obat ketika keduanya diberikan dalam dosis zat aktif yang sama dan dalam desain studi yang tepat.
Yang perlu diperhatikan dalam studi BA dan atau BE adalah perbedaan luas di bawah kurva konsentrasi zat aktif/obat dalam plasma - waktu (AUC) yang teramati, yang dinilai sebagai perbedaan efisiensi absorpsi obat karena adanya perbedaan kualitas produk obat yang dipengaruhi formulasi. Pada kebanyakan produk obat yang diberikan secara oral dan transdermal (kulit), BA digambarkan sebagai profil pemaparan sistemik (darah) yang didapat dari pengukuran konsentrasi zat aktif dalam plasma darah sepanjang rentang waktu tertentu, setelah pemberian produk obat kepada subjek/sukarelawan. Biasanya tidak menyertakan wanita karena terdapatnya siklus menstruasi yang akan mengakibatkan bervariasinya karakter farmakokinetika. Hal itu akan memengaruhi penilaian terhadap luas di bawah kurva (AUC), perkembangan kadar obat (zat aktif utuh dan atau metabolitnya) (Rahmat, D. , 2002).
Tujuan bioavailabilitas obat yang sesungguhnya antara lain agar suatu obat mampu memberikan suatu efek terapi obat optimal pada pemakai obat, dalam arti suatu produk obat akan cepat dan mempunyai kemampuan dalam mengobati suatu penyakit yang diderita seseorang. Dengan ini efektivitas pengobatan akan dicapai dengan baik. Selain itu, bioavailabilitas juga menekankan tentang pembatasan atau pengaturan pemakaian obat agar pemakaian obat dapat dijamin dan terhindar dari pengaruh toksik atau efek-efek yang tidak dikehendaki. Untuk itu perlu diketahui sejauh mana dan bagaiman obat tersedia didalam darah untuk mampu memberikan respon klinik yang sesuai, baik sebagai zat aktif tunggal ataupun beberapa kombinasi zat aktif dari suatu bentuk obat (www.kalbefarma.com).
Percobaan ini menggunakan furosemida dan lasix sebagai sampel, dengan bentuk sediaan tablet dan kapsul untuk mengamati bioekivalensinya yang dilakukan secara in vivo. Furosemida merupakan obat diuretik kuat yang bekerja dengan cara menghambat reabsorbsi elektrolit di ansa Henle asendens bagian epitel tebal; tempat kerjanya di permukaan sel epitel bagian luminal (yang menghadap ke lumen tubuli) (Ganiswarna,1995).
1.2. Permasalahan
§ Apakah variasi dari bentuk sediaan (formulasi) akan mempengaruhi laju disolusi dari sulfadiazin
§ Bagaimana pengaruh rute pemberian sulfadiazin terhadap parameter farmakokinetik
§ Apakah sediaan bermerk (Lasix) dengan sediaan generik (Furosemid) merupakan sediaan yang bioekivalen.
1.3. Hipotesa
§ Variasi dari bentuk sediaan (formulasi) obat akan mempengaruhi laju disolusi sulfadiazin
§ Rute pemberian obat akan memepengaruhi parameter-parameter farmakokinetik dari sulfadiazin
§ Produk obat yang mengandung zat berkhasiat yang sama dengan dosis yang sama akan memberikan efek terapi dan efek samping yang sama
1.4. Tujuan
§ Melakukan uji bioavailabilitas dan bioekivalensi dari sediaan obat
§ Melihat pengaruh variasi dari bentuk sediaan (formulasi) terhadap laju disolusi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Rute Pemberian Obat
Dalam memilih rute pemberian obat adalah tergantung pada tujuan terapi dan sifat-sifat obat serta kondisi pasien. Bentuk sediaan obat adalah obat yang diberikan pada pasien, dapat berbentuk kapsul, serbuk, suspensi oral, salep dan sebagainya. Bentuk sediaan obat yang diberikan akan mempengaruhi kecepatan dan besarnya obat yang diabsorbsi maka itu akan mempengaruhi kegunaan terapi obat.
Rute penggunaan obat dapat dengan cara :
Melalui oral
Untuk tujuan terapi serta efek sistemik yang dikehenddaki, rute oral adalah yang paling menyenangkan dan murah serta umumnya paling aman. Hanya beberapa obat yang mengalami perusakan oleh cairan lambung atau usus.
Secara Parenteral
Istilah parenteral digunakan untuk injeksi. Macam-macam rute penggunaan obat secara parenteral adalah
Injeksi intrakutan (intra dermal )= i.c.
Subkutn (hypodermal) = s.c.
Intramuscular = i.m.
Intravena = i.v.
Intraspinal (intratekal atau sub arachnoid)
Epidural= e.d.
Intra peritoneal = i.p.


Secara inhalasi
Penggunaan obat pada membran mukosa seperti pada mata, hidung, vagina, telinga dan sebagainya.
Penggunaan obat pada kulit (Anief,1986).
2.2. Biofarmasetika
Biofarmasetika adalah pengkajian faktor-faktor farmasetik yang mempengaruhi pelepasan obat dan absorpsi dari bentuk sediaan.Sifat-sifat fisika kimia dari obat dan bahan-bahan penambah menetapkan laju pelepasan obat dari bentuk sediaan dan transport berikutnya melewati membrane-membran biologis, sedangkan fisiologis dan kenyataan biokimia menentukan nasibnya di dalam tubuh.Penyampaian optimal dari pusat aktif ke tempat aksi tergantung pada pengertian dari interaksi spesifik antara variabel-variabel formulasi dan variabel-variabel biologis.Pengembangan suatu produk obat tidaklah selalu bervariasi, di mana suatu proses pengulangan system farmasetik atau biologis secara sistematis dikacaukan untuk mendapatkan informasi spesifik yang menyangkut efek yang satu terhadap efek yang lainnya (Lachman, L.1989).
2.3. Faktor farmasetika yang mempengaruhi bioavailabilitas obat.
Bioavailabilitas obat aktif dalam suatu bentuk sediaan padat bergantung pada beberapa faktor yaitu :
a. Desintegrasi
Waktu uji desintegrasi memberikan waktu pengukuran tepat pada pembentukan fragmen, granul, atau agregat dari bentuk sediaan padat.
b. Pelarutan
Laju pelarutan obat-obat dengan kelarutan dalam air sangat kecil dari bentuk sediaan padat yang utuh dan terdesintegrasi dalam saluran cerna sering mengendalikan laju absorbsi sistemik obat.
c. Sifat fisika kimia obat
Sifat fisika dan kimia partikel-partikel obat padat mempunyai pengaruh yang besar pada kinetika pelarutan. Luas permukaan efektif obat dapat sangat diperbesar dengan memperkecil ukuran partikel. Derajat kelarutan obat dalam air juga mempengaruhi laju pelarutan.
d. Faktor formulasi yang mempengaruhi pelarutan
Berbagai bahan tambahan dalam produk obat juga mempengaruhi kinetika pelarutan obat dengan mengubah media tempat obat melarut.
Istilah ketersediaan hayati zat aktif suatu obat timbul sejak adanya ketidaksetaraan terapetik diantara sediaan bermerek dagang yang mengandung zat aktif yang sama dan dalam bentuk sediaan yang sama, serta diberikan dengan dosis yang sama. Berbagai kejadian (zat aktif menjadi tidak aktif atau menjadi toksik) dapat menyebabkan ketidaksetaraan tersebut. Studi biofarmasetika menyatakan bahwa metode fabrikasi dan formulasi akan mempengaruhi ketersediaan hayati suatu obat.
Ketersediaan hayati merupakan kecepatan dan jumlah obat yang mencapai sistem sirkulasi sistemik dan menunjukkan kinetik perbandingan zat aktif yang mencapai peredaran darah terhadap jumlah obat yang diberikan. Ketersediaan hayati obat yang diformulasi menjadi sediaan farmasi merupakan salah satu tujuan dalam merancang suatu bentuk sediaan dan keefektifan obat tersebut. Pengkajian terhadap ketersediaan hayati ini tergantung pada absorpsi obat ke dalam sirkulasi sistemik serta pengukuran dari obat yang terabsorpsi tersebut (Syukri, Y. 2002).

2.4. Parameter Farmakokinetika
Oleh karena konsentrasi obat bergantung pada waktu, dua variabel yaitu konsentrasi obat dan waktu, berturut-turut disebut sebgai variabel tergantung dan bebas, yang secara bersama dikenal sebagai data. Dari data ini dapat diperkirakan model farmakokinetik yang kemudian diuji kebenarannya, dan selanjutnya diperoleh parameter-parameter farmakokinetiknya.
2.4.1. Tetapan Laju Eliminasi
Laju eliminasi untuk sebagian besar obat merupakan suatu proses order ke satu. Tetapan laju eliminasi , K, adalah suatu tetapan laju eliminasi order kesatu dengan satuan waktu-1. Pada umumnya hanya obat induk atau obat yang aktif yang ditentukan dalam kompartemen vaskular. Pemindahan atau eliminasi obat secara total dari kompartemen ini dipengaruhi oleh proses metabolisme (biotransformasi) dan ekskresi.
Tubuh dapat dinyatakan sebagai suatu susunan, atau sistem dari kompartemen-kompartemen yang berhubungan secara timbal balik satu dengan yang lain. Suatu kompartemen bukan suatu daerah fisiologik atau anatomik yang nyata, tetapi dianggap sebagai suatu jaringan atau kelompok jaringan yang mempunyai aliran darah dan afinitas obat yang sama. Secara konsepsual, obat bergerak masuk dan keluar kompartemen secara dinamik. Model merupakan suatu sistem yang terbuka jika obat dieliminasi dari sistem tersebut.

2.4.2. Volume Distribusi
Volume distribusi menyatakan suatu faktor yang harus diperhitungkan dalam memperkirakan jumlah obat dalam tubuh dari konsentrasi obat yang ditemukan dalam kompartemen cuplikan. Volume distribusi juga dapat dianggap sebagai (Vd) di mana obat terlarut.
2.4.3. Area di bawah Kurva (Area Under Curve)
Area di bawah kurva kadar obat dalam plasma-waktu adalah suatu ukuran dari jumlah bioavailabilitas suatu obat. AUC mencerminkan jumlah total obat aktif yang mencapai sirkulasi sistemik. AUC adalah area di bawah kurva kadar obat dalam plasma-waktu dari t = 0 sampai t = ~, dan sama dengan jumlah obat tidak berubah yang mencapai sirkulasi umum dibagi klirens.
2.4.4. t maks
Waktu konsentrasi plasma mencapai puncak dapat disamakan dengan waktu yang diperlukan untuk mencapai konsentrasi obat maksimum setelah pemberian obat. Pada t maks absorpsi obat adalah terbesar, dan laju absorpsi obat sama dengan laju eliminasi obat. Satuan t maks adalah satuan waktu (misal : jam, menit)
2.4.5. Cp maks
Konsentrasi plasma puncak menunjukkan konsentrasi obat maksimum dalam plasma setelah pemberian obat secara oral. Cp maks memberi suatu petunjuk bahwa obat cukup diabsorpsi secara sistemik dan untuk memberi suatu respon terapetik dan petunjuk dari kemungkinan adanya kadar toksik obat. Satuan Cp maks adalah satuan konsentrasi. (misal, mg/ml)

2.4.6. Waktu Paruh
Waktu paruh (t ½ ) menyatakan waktu yang diperlukan oleh sejumlah obat atau konsentrasi obat untuk berkurang menjadi separuhnya. Harga t ½ untuk reaksi order ke satu dapat diperoleh dari persamaan berikut:
Dari pesamaan itu tampak bahwa untuk reksi order ke satu, t ½ adalah konstan. Tanpa perlu diperhatikan berapa jumlah atau konsentrasi obat pada keadaan awal. Satuan t ½ adalah waktu -1
2.4.7. Fraksi Dosis Terabsorpsi (F)
F adalah fraksi dosis terabsorpsi; setelah pemberian IV, F sama dengan satu, karena seluruh dosis terdapat dalam sirkulasi sistemik dengan segera. Oleh karena itu, obat dianggap tersedia sempurna setelah pemberian IV. Setelah pemberian obat secara oral F dapat berbeda mulai dari harga F sama dengan nol (tidak ada absorpsi obat) sampai F sama dengan satu (absorpsi obat sempurna). 2.5. Fase Farmakologi
Farmakodinamik adalah cabang ilmu yang mempelajari efek biokimiawi dan fisiologi obat serta mekanisme kerjanya.Tujuan memepelajari mekanisme kerja obat ialah untuk meneliti efek obat utama, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan mengetahui urutan peristiwa serta spektrum efek dan respon yang terjadi.
Efek obat umumnya timbul karena interaksi obat dengan reseptor pada sel suatu organisme.Interaksi obat dengan reseptornya ini mencetuskan perubahan biokimiawi dan fisiologi yang merupakan respon khas untuk obat tersebut.Reseptor merupakan komponen makromolekul fugsional yang mencakup 2 konsep penting :
Pertama, bahwa obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal tubuh.
Kedua, bahwa obat tidak menimbulkan suatu efek baru, tetapi menimbulkan efek yang sudah ada
Walaupun tidak berlaku untuk terapi gen, secara umum konsep ini masih berlaku
sampai sekarang. Setiap komponen makromolekul fungsional dapat berperan sebagai resepter obat, tetapi sekelompok reseptor tertentu juga berperan sebagai reseptor untuk ligand endogen.
Strukter kimia suatu obat berhubungan erat dengan afinitasnya terhadap reseptor dan aktivitas intrinsiknya sehingga perubahan kecil dalam molekul obat dapat enimbulkan perubahan besar dalam sifat farmakologinya. Pengetahuan mengenal hubungan struktur aktivitas bermanfaat dalam strategi pengembangan obat baru (Zunilda, et all. 1995).
2.6. PELAKSANAAN PENELITIAN BIOAVAILABILITAS OBAT :
Penelitian bioavailabilitas obat memerukan fasilitas laboratorium analisis/bioanalitik yang canggih dengan tenaga ahli yang profesional dan harus memenuhi persyaratan tertentu. Untuk beberapa macam obat, persyaratan pelaksanaannya telah dikeluarkan oleh American Pharmaceutical Association dalam bukunya The Bioavailability of Drug Products. Protokol penelitian bioavailabilitas obat hendaknya memuat tujuan percobaan, latar belakang obat yang hendak diteliti, bahan obat, pemilihan sukarelawan, disain penelitian, penanganan sampel, metoda analisis kadar obat dalam darah,
dan hal-hal lain.
Secara garis besar pelaksanaan suatu penelitian bioavailabilitas obat dilakukan sebagai berikut :
1) Pemilihan sukarelawan yang mencakup pemeriksaan kesehatan, penandatanganan informed consent.
2) Periode puasa dari minum obat apapun (1 minggu)
3) Puasa 1 malam sebelum pemberian obat
4) Pemberian obat
5) Pengambilan sampel material hayati (darah dan/atau urin)
pada interval waktu tertentu
6) Penyimpanan dan preparasi sampel
7) Analisis kadar obat dalam material hayati Langkah 2) s/d 6) dapat berulang sesudah periode wash-out sesuai dengan protokol.
8) Tabulasi data, perhitungan parameter-parameter farmakokinetika, analisis statistik.
9) Penyusunan laporan.
2.7. OBAT-OBAT YANG PERLU DITELITI BIOAVAILABILITASNYA :
Perlukah penelitian bioavailabilitas dilakukan untuk setiap obat? Memang masih belum ada suatu ketentuan yang berlaku umum untuk bioavailabilitas produk obat. Walaupun demikian, penelitian bioavailabilitas perlu dilakukan dalam hal berikut
1) Obat-obat yang batas keamanannya sempit
2) Obat-obat yang absorpsinya berfluktuasi
3) Obat-obat yang variasi individunya besar dalam kadar plasma pada dosis biasa
4) Diperlukan untuk mempertahankan MEC/MIC obat dalam cairan hayati selama terapi
5) Obat-obat baru (Ringo-ringo, V. ,1985).
2.8. Bioavailabilitas dan Bioekivalensi
Bioavailabilitas/ketersediaan hayati (BA) dapat didefinisikan sebagai rate (kecepatan zat aktif dari produk obat diabsorpsi/diserap di dalam tubuh ke sistem peredaran darah) dan extent (besarnya jumlah zat aktif dari produk obat yang dapat masuk ke sistem peredaran darah), sehingga zat aktif/obat tersedia pada tempat kerjanya untuk menimbulkan efek terapi/penyembuhan yang diinginkan.
Bioekivalensi/kesetaraan biologi (BE) dapat didefinisikan, tidak adanya perbedaan secara signifikan/bermakna pada rate dan extent zat aktif dari dua produk obat yang memiliki kesetaraan farmasetik, misalnya antara tablet A yang merupakan produk obat uji dan tablet B yang merupakan produk obat pembanding (inovator), sehingga menjadi tersedia pada tempat kerja obat ketika keduanya diberikan dalam dosis zat aktif yang sama dan dalam desain studi yang tepat.
Yang perlu diperhatikan dalam studi BA dan atau BE adalah perbedaan luas di bawah kurva konsentrasi zat aktif/obat dalam plasma - waktu (AUC) yang teramati, yang dinilai sebagai perbedaan efisiensi absorpsi obat karena adanya perbedaan kualitas produk obat yang dipengaruhi formulasi.
Pada kebanyakan produk obat yang diberikan secara oral dan transdermal (kulit), BA digambarkan sebagai profil pemaparan sistemik (darah) yang didapat dari pengukuran konsentrasi zat aktif dalam plasma darah sepanjang rentang waktu tertentu, setelah pemberian produk obat kepada subjek/sukarelawan. Biasanya tidak menyertakan wanita karena terdapatnya siklus menstruasi yang akan mengakibatkan bervariasinya karakter farmakokinetika. Hal itu akan memengaruhi penilaian terhadap luas di bawah kurva (AUC), perkembangan kadar obat (zat aktif utuh dan atau metabolitnya).
Setelah obat diberikan kepada sukarelawan, maka pada interval waktu tertentu diambil darahnya (disampling) untuk ditentukan kadar zat aktifnya dalam plasma oleh suatu metode tertentu. Kemudian dibuat kurva konsentrasi zat aktif dalam plasma - waktu yang memuat minimal sembilan titik (sembilan data sampling).
Dipandang dari sudut farmakokinetika, studi BA dapat menyediakan informasi tambahan yang berguna yaitu metabolisme, transportasi, distribusi, dan eliminasi zat aktif, kesesuaian dosis, efek makanan terhadap absorpsi/penyerapan zat aktif, dan sebagainya. Dipandang dari sudut kinerja produk obat, studi BA merupakan penunjuk berhasil tidaknya atau penampilan suatu formulasi obat yang dilakukan pada saat clinical trial (suatu percobaan untuk membuktikan keamanan dan khasiat obat).
Apabila dilakukan formulasi ulang terhadap produk obat tersebut atau dilakukan produksi obat yang setara secara generik yang mengandung zat aktif yang sama pada industri farmasi lain, maka harus memiliki penampilan BA yang sesuai dengan obat pada saat clinical trial tersebut.
Bioekivalensi merupakan suatu penentuan BA relatif antara dua produk obat sehingga merupakan tampilan komparatif produk obat. Walaupun penentuan BA dapat menunjukkan kualitas produk obat, akan tetapi BE merupakan tes komparatif yang formal antara produk obat uji dan produk obat pembanding (baik inovator ataupun produk obat yang sudah dinyatakan kesetaraan biologiknya). Tes komparatif itu menggunakan kriteria khusus untuk menilai adanya perbedaan bermakna atau tidak. Bila tenyata tidak ada perbedaan bermakna, maka produk obat uji tersebut dinya- takan bioekivalen dengan produk obat pembanding.
Perlunya dilakukan studi BA dan atau BE pada produk obat tadi karena apabila terjadi perbedaan sifat fisiko kimia bahan baku zat aktif yang dipakai (bentuk kristal dan ukuran partikel), perbedaan komposisi bahan pembantu, kualitas bahan pembantu, perbedaan cara pencampuran, dan perbedaan teknik pembuatan pada sediaan-sediaan yang setara secara farmasetik, maka dapat menyebabkan perbedaan kecepatan pelepasan dan kecepatan melarut zat aktif dari sediaannya (untuk sediaan padat) di mana kecepatan dan proses tersebut dapat memengaruhi kecepatan dan efisiensi absorpsi zat aktif di dalam tubuh. Sedangkan pada bentuk sediaan larutan (sirup) bisa terjadi antarakasi zat aktif dengan bahan pembantu yang dipilih. Dengan demikian perbedaan tersebut dikhawatirkan akan mengakibatkan terjadinya perbedaan ketersediaan hayati.
Dosis obat antara produk obat uji dan produk obat pembanding sebaiknya harus sama, karena selain adanya farmakokinetik linear di mana konsentrasi zat aktif dalam darah berhubungan secara linier dengan dosis obat yang diberikan, ada juga farmakokinetik nonlinear, di mana konsentrasi zat aktif dalam darah tidak berhubungan secara linier dengan dosis obat yang diberikan. Oleh sebab itu perlu diperhatikan penentuan besarnya dosis produk obat yang akan diuji untuk mencegah adanya kesalahan interpretasi data sebagai akibat dari ketidaklinearan senyawa obat yang diuji (Rahmat, D. , 2002).
2.9. Disolusi
Disolusi didefinisikan sebagai proses suatu zat padat masuk ke dalam pelarut menghasilkan suatu larutan. Secara sederhana, disolusi adalah proses zat padat melarut. Secara prinsip, proses ini dikendalikan oleh afinitas antara zat padat dan pelarut (Syukri, 2002).
Dalam penentuan kecepatan disolusi dari bentuk sediaan padat terlibat berbagai macam proses disolusi yang melibatkan zat murni. Karakteristik fisik sediaan, proses pembasahan sediaan, kemampuan penetrasi media disolusi ke dalam sediaan, proses pengembangan, proses disintegrasi dan deagragasi sediaan, merupakan faktor yang mempengaruhi karakteristik disolusi obat sediaan.
Kecepatan disolusi obat merupakan tahap pembatas kecepatan (rute limiting step) sebelum obat berada dalam darah. Apabila suatu sediaan padat berada dalam saluran cerna, ada dua kemungkinan yang akan berfungsi sebagai pembatas kecepatan. Bahan berkhasiat dari sediaan padat tersebut pertama-tama harus terlarut, sesudah itu barulah obat yang berada dalam larutan melewati membran saluran cerna. Obat yang larut baik dalam air akan melarut cepat, obat akan berdifusi secara pasif atau transport aktif, kelarutan obat merupakan pembatas kecepatan absorpsi melalui membran saluran cerna. Sebaliknya, kecepatan obat yang kelarutannya kecil akan dibatasi, karena kecepatan disolusi dari obat tidak larut atau disintegrasi sediaan relatif pengaruhnya kecil terhadap disolusi zat aktif. Apabila kecepatan absorpsi tidak dapat ditentukan oleh salah satu dari dua tahap, maka tidak satupun dari kedua tahap merupakan pembatas kecepatan (Syukri, 2002).
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larut dalam cairan pada tempat absorpsi. Dalam hal dimana kelarutan suatu obat tergantung dari apakah medium asam atau medium basa, obat tersebut akan dilarutkan berturut-turut dalam lambung dan dalam usus halus. Proses melarutnya suatu obat disebut disolusi (Anief, 2000).
Pada saat partikel obat mengalami disolusi, molekul-molekul obat pada permukaan mula-mula masuk kedalam larutan menciptakan suatu lapisan jenuh obat-larutan yang membungkus permukaan partikel obat padat yang dikenal lapisan difusi. Dari lapisan difusi ini, molekul-molekul obat keluar melewati cairan yang melarut dan berhubungan dengan membrane biologis serta absorpsi terjadi(Anief, 2000).
Jika proses disolusi untuk suatu partikel obat tertentu adalah cepat, atau jika obat diberikan sebagai suatu larutan dan tetap ada dalam tubuh seperti itu, laju obat yang terabsorpsi terutama akan tergantung pada kesanggupannya menembus pembatas membrane. Tetapi, jika laju disolusi untuk suatupartikel obat lambat, proses disolusinya sendiri akan merupakan tahap yang menentukan laju dalam proses absorpsi (Anief, 2000).


2.9.1. Guna Uji Disolusi
Ø Disolusi merupakan profil pelepasan zat aktif dari sediaan
Ø Uji disolusi merupakan pengujian mutu sediaan tablet dari batch ke batch
Ø Data uji disolusi juga penting untuk pengembangan mutu sediaan
2.9.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Disolusi
1. Pengurangan ukuran partikel
Pengurangan partikel obat menambah luas permukaan obat, sehingga menambah luas permukaan obat yang terkena medium disolusi sebagai hasilnya menambah absorbsi.
2. Bentuk kristal obat
Obat-obat tertentu dapat berada dalam bentuk amorf atau sebagai bentuk kristal (polimorf). Polimorf mempunyai struktur kimia sama tetapi berbeda sifat fisik seperti kelarutan, afinitas, kekersan dan lain-lain.
3. Hidrat atau solvat
Solvat : obat yang bergabung dengan molekul pelarut untuk menambah bentuk kristal. Bila pelarut adalah air, solvat yang terbentuk disebut hidrat. Kelarutan dan laju disolusi dari suatu solvat dapat berbeda nyata dengan obat bentuk nonsolvat.
4. Garam
Laju disolusi dan absorpsi dari garam-garam monovalen dari obat-obat asam lemah atau garam-garam asam kuat dari obat-obat basa lemah biasanya akan lebih cepat daripada asam atau basa bebasnya (Suarbrick, 1970).
5. Faktor-faktor formulasi
Formulasi sediaan berkaitan dengan bentuk sediaan, bahan pembantu dan cara pengolahan. Pengaruh bentuk sediaan pada laju disolusi tergantung pada kecepatan pelepasan bahan aktif yang terkandung pada kecepatan pelepasan bahan aktif yang terkandung di dalamnya. Secara umum laju disolusi akan menurun menurut urutan sebagai berikut: suspensi, kapsul, tablet dan tablet salut. Secara toritis disolusi bermacam sediaan padat tidak selalu urutan dan masalahnya sama, karena di antara masing-masing bentuk sediaan padat tersebut akan ada perbedaan baik ditinjau dari segi teori maupun peralatan uji disolusi, seperti pada sediaan berbentuk serbuk, kapsul, tablet-kaplet, suppositoria, suspensi, topikal dan transdermal (Syukri, Y. 2002).
2.10. Rumus struktur Furosemid
(http://en.wikipedia.org/wiki/Furosemida)
Nama kimia : Asam 4-kloro-N-furfuril-5-sulfamoilantranilat
Rumus kimia : C12H11ClN2O5S
Berat molekul : 330,74
Pemerian : Serbuk hablur, putih sampai kuning, tidak berbau.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, mudah larut dalam aseton, dalam dimetilformamida dan dalam alkali hidroksida, larut dalam metanol, agak sukar larut dalam eter, sangat sukar larut dalam kloroform (Ditjen POM, 1995).

2.11. Rumus struktur Sulfadiazin :

(http://en.wikipedia.org/wiki/Sulfadiazine)
Rumus molekul: C10H10N4O2S
BM : 250,27
Pemerian :
Serbuk, putih sampai agak kuning, tidak berbau atau hampir tidak berbau, stabil diudara tapi pada pemaparan terhadap cahaya berlahan-lahan menjadi hitam
Kelarutan :
Praktis tidak larut dalam air, mudah larut dalam asam mineral encer, dalam larutan kalium hidroksida, dalam larutan natrium hidroksida dan dalam ammonium hidroksida, agak sukar larut dalam etanol dan dalam aseton, sukar larut dalam serum manusia pada suhu 37oC (Ditjen POM, 1995).

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1. Alat dan Bahan
3.1.1. Alat-Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan adalah dissolution tester (Erweka), spektrofotometer (Shimazu), neraca analitis (Sartorius, Metler Toledo), sentrifuge, labu tentukur 1000 ml, labu tentukur 100 ml, labu tentukur 25 ml, labu tentukur 10 ml, beaker glass 1000 ml, maat pipet 5 ml, termometer, bola penghisap, polytube, pembuka mulut, stopwach, spuit, pisau cukur dan alat-alat gelas lainnya.
3.1.2. Bahan-Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan adalah sulfadiazin (tablet, kapsul, sediaan sustained release, larutan), furosemid generik, Lasix®, asam trikloro asetat 10%, reagen Bratton Marshall (1-naftil etilen diamin), heparin, NaOH, aquadest, alkohol 70%, vaselin, amonium sulfamat 0,5%, natrium nitrit 0,1%, asam klorida 0,1N, dan natrium klorida 0,9%.

3.2. Hewan Percobaan
Hewan yang digunakan dalam percobaan adalah kelinci jantan dengan berat badan 1,5-2,5 Kg.
3.3. Prosedur
3.3.1. Pembuatan Pereaksi
- Cairan Lambung Buatan pH 1,2
Dilarutkan 2 gram natrium klorida P dalam 7 ml asam klorida P dan air secukupnya hingga 1000 ml. (Depkes RI, 1979).
- Asam trikloroasetat 10% (b/v)
Dilarutkan asam trikloroasetat 10 gram dalam air hingga 100 ml (Depkes RI, 1979).
- NaOH 1 N
Dilarutkan 40,01 gram NaOH dalam air secukupnya hingga 1000 ml (Depkes RI, 1979).
- Heparin 10 IU (v/v)
Diencerkan 0.2 ml heparin 5000 IU dalam NaCl 0,9% hingga 100 ml. (Depkes RI, 1979).
- Reagen Bratton Marshall 0,05% (b/v)
Dilarutkan 0,05 gram etilen diamin dihidroklorida dalam air hingga 100 ml (Depkes RI, 1979).
- Natrium nitrit 0,5% (b/v)
Dilarutkan natrium nitrit 0,5 gram dalam air hingga 100 ml (Depkes RI, 1979).
- Amonium sulfamat 0,5% (b/v)
Dilarutkan amonium sulfamat 0,5 gram dalam air hingga 100 ml (Depkes RI, 1979).

3.3.2. Pembuatan Kurva Kalibrasi In Vitro
Ditimbang 250 mg sulfadiazin. Dimasukkan ke dalam labu tentukur 1000 ml.Kemudian ditambah NaOH 1 N sampai larut dan dicukupkan dengan cairan lambung buatan sampai garis tanda. Dari larutan tersebut di pipet 0,4; 0,8; 1,2; 1,6; 2,0; dan 3,2 ml dan diencerkan dengan cairan lambung buatan pH 1,2 sampai 100 ml. Larutan diukur serapan dengan alat spektrofotometer ultraviolet pada panjang gelombang maksimum 242 nm.

3.3.3. Pembuatan Kurva Kalibrasi In Vivo
3.3.3.1.Sulfadiazin
Ditimbang 250 mg sulfadiazin. Dimasukkan ke dalam labu tentukur 1000 ml. Kemudian ditambah NaOH 1 N sampai larut dan dicukupkan dengan air sampai garis tanda. Dari larutan tersebut di pipet 2, 4, 8, 12, 20, dan 30 ml dan diencerkan dengan air sampai 100 ml.Dari masing-masing larutan kalibrasi dipipet 0,5 ml, dipindahkan ke dalam labu tentukur 10 ml. Ditambahkan 1 ml natrium nitrit dan didiamkan selama 3 menit.Ditambahkan 2 tetes ammonium sulfamat dan didiamkan selama 2 menit. Ditambahkan 1 ml pereaksi Bratton Marshall dan diencerkan dengan air sampai 10 ml. Larutan diukur serapan dengan alat spektrofotometer visibel pada panjang gelombang maksimum 540 nm.

3.3.3.2.Furosemide
Ditimbang 50 mg forusemide. Dimasukkan dalam labu tentukur 100 ml, kemudian ditambahkan NaOH 1 N hingga larut dan dicukupkan dengan aquadest sampai garis tanda. Dari larutan tersebut dipipet 0,2; 0,4; 0,6; 0,8; 1,2; 1,4; 1,6; 1,8; dan 2,0 ml, lalu diencerkan dengan aquadest sampai 100 ml. Kemudian larutan diukur serapan dengan alat spektrofotometer ultraviolet pada panjang gelombang 277 nm.

3.3.4. Uji Disolusi
Medium disolusi : Cairan lambung buatan pH 1,2
Volume : 900 ml
Temperatur : 37 ± 0,5 oC
Putaran : 100 rpm untuk sulfadiazin, dan 50 rpm untuk furosemid
Metode : Dayung
Diatur temperatur medium disolusi 37 ± 0,5oC. Dimasukkan medium disolusi sebanyak 900 ml ke dalam tabung disolusi. Diatur putaran 100 rpm. Sediaan uji dimasukkan ke dalam tabung disolusi, lalu dihidupkan alat. Pada interval waktu dipipet cuplikan sebanyak 5 ml dan dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 ml. Diencerkan dengan medium disolusi sampai garis tanda. Setiap pengambilan cuplikan diganti dengan medium disolusi dalam jumlah yang sama Larutan diukur serapan dengan alat spektrofotometer uv pada panjang gelombang maksimum 242 nm untuk sulfadiazin dan 277 nm untuk furosemid.
Interval Pengambilan : Kapsul : 5, 10, 15, 20, 30, 45, 60 menit
Tablet : 5, 10, 15, 20, 30, 45, 60 90 menit
Sustained release : 5, 10, 15, 20, 30, 45, 60 90, 120 menit

3.3.5. Pemberian secara Oral (Tablet, Kapsul, dan Sustained release).
Digunakan satu ekor kelinci. Ditimbang berat badan kelinci.Dihitung berat sulfadiazin yang diperlukan (dosis 100 mg). Diberikan secara oral (tablet, kapsul atau sediaan lepas lambat) sulfadiazin kepada kelinci dengan menggunakan plastik pembuka mulut.Diambil darah lebih kurang 0,5 ml melalui vena telinga marginal pada waktu 0, 5, 10, 20, 30, 60, 90, 120, 150, dan 180 menit setelah pemberian sulfadiazin, furosemid dan Lasix®. Sampel darah pada waktu 0 digunakan sebagai blanko. Dianalisis konsentrasi sulfadiazin bebas dan furosemid bebas di dalam semua sampel darah dengan metode Bratton Marshall.

3.3.6. Pemberian secara Intravena
Digunakan satu ekor kelinci.Ditimbang berat badan kelinci. Dihitung volume injeksi sulfadiazin yang diperlukan (dosis 40 mg). Diberikan melalui vena telinga marginal. Diambil darah lebih kurang 0,5 ml melalui vena telinga marginal pada waktu 0, 5, 10, 20, 30, 60, 90, 120, 150, dan 180 menit setelah pemberian sulfadiazin. Sampel darah pada waktu 0 digunakan sebagai blanko. Digunakan telinga kiri jika pemberian injeksi melalui telinga kanan atau sebaliknya. Dianalisis konsentrasi sulfadiazin bebas di dalam semua sampel darah dengan metode Bratton Marshall.


3.3.7. Cara Pengambilan Darah
Rambut telinga kelinci dicukur, kemudian diolesi vaselin putih secukupnya. Vena telinga marginal kelinci dibocorkan dengan jarum spuit yang terawat heparin, lalu ditampung darah pada daun telinga sebanyak 1 ml dan diambil darah dengan menggunakan spuit yang terawat heparin.

3.3.8. Analisis Sulfadiazin Bebas dalam Darah
1 ml sampel darah kemudian dimasukkan tabung sentrifuge yang telah diisi 2 ml larutan asam trikloroasetat 10%. Dihomogenkan campuran tersebut dengan alat vortex. Diendapkan campuran selama 10 menit. Diambil 0,5 ml cairan supernatan yang jernih, dimasukkan ke dalam tabung. Ditambahkan 1 tetes larutan natrium nitrit 0,5%, dihomogenkan dan didiamkan selama 3 menit. Ditambahkan 1 ml larutan ammonium sulfamat 0,5%, dihomogenkan campuran dan didiamkan selama 2 menit. Ditambahkan 2 ml larutan reagen bratton marshall lalu diencerkan sampai garis tanda. Setelah dihomogenkan, diukur absorben campuran dengan alat spektrofotometer visibel pada panjang gelombang 540 nm. Sampel darah yang diambil pada waktu 0 dan dirawatkan seperti sampel darah yang lain digunakan sebagai blanko.


DAFTAR PUSTAKA

Desissaguet,J & Aiache J.M, (1993). Biofarmasi. Penerjemah: Dr. Widji Soeratri. Universitas Airlangga. Surabaya. Hal.13-50
Ansel, H.C. (1989). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Penerjemah: Farida Ibrahim. Edisi Keempat. Universitas Indonesia. Jakarta. Hal.110.
Anief, (2000). Farmasetika. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Hal.31-46
Depkes R.I. (1979).Farmakope Indonesia. Edisi III. Departemen Kesehatan R.I. Jakarta. Hal.579, 654, 681, 748-749.
Furosemide. Online Oktober 2006. http://en.wikipedia.org/wiki/Furosemide
Masri,(1984). Ketersediaan Hayati Obat. Online Oktober 2006. http://www.kalbefarma.com/files/cdk/files/05_KetersediaanHayatiObat.pdf/05_KetersediaanHayatiObat.html
Shargel, L. (1988). Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan. Penerjemah: Fasich dan Sjamsiah. Edisi Kedua. Universitas Airlangga. Surabaya. Hal.99-102, 454-456
Sjuib,F. Farmakokinetika dan Biofarmasi sebagai Jembatan Dokter dan Apoteker. Online Oktober 2006. http://www.itb.ac.id/focus/focus_file/makalah_prof_fs.pdf
Sulfadiazin. Online Oktober 2006. http://en.wikipedia.org/wiki/Sulfadiazin
Syukri, Y. (2002). Biofarmasetika. UII Press. Yogyakarta. Hal.31-60
Tjay, T.H. & Kirana,R. (2002). Obat-Obat Penting. Edisi Kelima. PT.Elex Media Komputindo. Jakarta. Hal.12

Program Kreativitas Mahasiswa
Kamis, 22 November 2007

A.JUDUL PROGRAM

PEMANFAATAN LILIN LEBAH SEBAGAI MATRIKS PENYAMPAIAN OBAT TERKONTROL

B.LATAR BELAKANG

Sejalan dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dibidang Farmasi, maka banyak usaha yang dilakukan untuk meningkatkan mutu suatu obat. Untuk itu dikembangkan suatu sediaan sistem pelepasan terkontrol yang dapat menghasilkan kadar obat dalam darah yang merata, memberikan durasi obat yang cukup panjang tetapi yang tidak membahayakan tubuh dan dapat diterima dengan baik oleh pasien (Ansel,1989)

Kegunaan terbanyak lilin lebah kini adalah untuk kosmetik, pembuatan lilin dan industri perlebahan.Berbagai formula untuk krim, salep,losion cairan pembersih, pomade, lipstick, gincu (rouge), salep dan pelapis pil.Berbagi perekat, krayon, permen kunyah dan tinta juga mengandung lilin lebah.Titk lebur lilin lebah murni berkisar antara 610-690 C ( 142- 156 0 F ). Indeks refraksinya 1,44. Tahanan dielektrisnya 2,9 dan padat jenis 200 C adalah 0,96, lebih ringan dari air. Ia tak larut dalam air dan sdikit larut dalam alkohol dingin. Benzene chloroform, karbon disulfida, eter dan beberapa minyak terbang melarutkan lilin lebah komplit. Bau dan rasanya khas redam dan terbakar dengan nyala kuning bersih dan mengeluarkan aroma unik. Lilin lebah sering terkontaminasi dengan sdikit polen, propolis dan madu yang meningkatkan padat jenis dan warnanya. Warna malam disebabkan oleh pigmen yang terkandung dalam polen dan propolis dan mungkin dari besi oksida yang berkontak dengan metal besi.(Sihombing,1992)

Metode untuk mengontrol pelepasan zat aktif dari suatu sediaan, melibatkan difusi. Difusi merupakan pergerakan molekul obat dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Pendekatan metode yang melibatkan difusi antara lain: (1) Penyalutan inti obat dengan polimer yang tidak larut air, (2) Obat padat didispersikan dalam matriks yang tidak larut, (3) Inti obat disalut dengan membran yang larut sebagian.

(Abdou,1998)

Lilin merupakan produk lebah yang dihasilkan oleh kelenjar lilin yang terdapat pada perut bagian bawah lebah madu. Lilin lebah bermanfaat sebagai bahan baku dalam berbagai industri diantaranya industri farmasi, namun sejauh ini belum pernah dilakukan pemanfaatan lilin lebah sebagai matriks penyampain obat terkontrol. Metode untuk mengontrol pelepasan zat aktif dari suatu sediaan, melibatkan difusi yang merupakan pergerakan molekul obat dari daerah dengan konsentrasi tingi ke konsentrasi rendah. Pendekatan ini melibatkan difusi obat padat didesfersikan dalam matriks yang tidak larut sebagai pengontrol pelepasaan zat aktif dari suatu sedian. Lilin lebah merupakan suatu bahan yang tidak larut dalam air sehingga dapat di dibuat sebagai matriks penyampain obat terkontrol.

C. PERUMUSAN MASALAH

Lilin lebah merupakan produk lebah yang dihasilkan oleh kelenjer lilin yang terdapat pada perut bagian bawah lebah madu. Lilin lebah bermanfaat sebagai bahan baku dalam berbagai industri diantaranya industri farmasi. Namun sejauh ini belum pernah dilakukan penelitian tentang penggunaan lilin lebah sebagai matriks penyampaian obat terkontrol

D. TUJUAN PROGRAM

Adapun tujuan program ini adalah :

Untuk memanfaatkan lilin lebah dalam industri farmasi sebagai matriks penyampaian obat terkontrol

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN

Luaran yang diharapkan adalah publikasi tentang pemanfaatan lilin lebah sebagai matriks penyampaian obat terkontrol pada jurnal ilmiah, selain itu dapat dibuat alternatif penggunaan lilin lebah sebagai matriks penyampaian obat terkontrol dalam industri farmasi.

F.KEGUNAAN PROGRAM

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk :

a. Memberikan informasi mengenai pemanfaatan lilin lebah sebagai matriks pelepasan obat secara terkontrol

  1. Bermanfaat bagi dunia pendidikan, penelitian, serta sebagai bahan informasi

masyarakat umum,industri farmasi dalam pemanfaatan lilin lebah.

G. TINJAUAN PUSTAKA

I. Lebah Madu (Apis andreniformis Smit)

Menurut D.T.H. SIHOMBING (1992), lebah termasuk hewan serangga, atau insekta. Penggolongan zoologis lebah madu adalah sebagai berikut.

Diantaranya Apis andreniformis Smit adalah lebah alam Indonesia yang membangun sarangnya di tempat-tempat terbuka dan sarangnya hanya terdiri dari satu sisiran yang digantungkan pada cabang pohon, loteng banguinan dan bukit-bukit batu yang terjal.

Kelas : Insekta.

Ordo : Hymenoptera.

Famili : Apiadae

Sub-famili : Bombinae

Genus : Apis

Spesies : Apis andreniformis Smit

Kehidupan lebah di sarang dan produksi madunya sangatlah menakjubkan. Pengaturan kelembapan dan ventilasi: Kelembapan sarang, yang membuat madu memiliki kualitas perlindungan tinggi, harus dijaga pada batas-batas tertentu. Pada kelembapan di atas atau di bawah batas ini, madu akan rusak serta kehilangan kualitas perlindungan dan gizinya. Begitu juga, suhu sarang harus 35°C selama sepuluh bulan pada tahun tersebut. Sarang yang dibangun lebah dapat menampung 80 ribu lebah yang hidup dan bekerja bersama-sama, dengan menggunakan sedikit bagian dari lilin lebah. Sarang tersebut tersusun atas sarang madu berdinding lilin lebah, dengan ratusan sel-sel kecil pada kedua permukaannya. Semua sel sarang madu berukuran sama persis. Kendatipun memiliki volume yang sama, jumlah lilin yang diperlukan untuk membangun sel segi enam lebih sedikit daripada untuk membangun sel segi tiga atau segi empat. Sel berbentuk segi enam memerlukan jumlah lilin paling sedikit dalam pembangunannya, dan menyimpan madu paling banyak. Satu hal lain yang dipertimbangkan ketika membangun sarang madu adalah kemiringan sel. Dengan menaikkan kemiringan sel 13 pada kedua sisinya, lebah mencegah sel berposisi sejajar dengan tanah. Dengan demikian, madu tidak akan bocor dari mulut sel. Selagi bekerja, lebah madu saling bergelantungan membentuk lingkaran dan bergerombol. Dengan melakukan hal ini, mereka menghasilkan suhu yang dibutuhkan untuk produksi lilin. Kantung kecil dalam perut mereka memproduksi cairan transparan, yang mengalir keluar dan mengeraskan lapisan lilin tipis. Lebah mengumpulkan lilin dengan menggunakan kait kecil pada kakinya. Mereka memasukkan lilin ini ke dalam mulut, lalu mengunyah serta memprosesnya sampai lilin tersebut cukup lunak, dan membentuknya dalam sel. Sejumlah lebah bekerja bersama untuk menjaga suhu yang dibutuhkan tempat kerja mereka, agar lilin tersebut tetap lunak dan mudah dibentuk.( http://...@harunyahya.com)

I.1. Malam ( Lilin-lebah, wax )

Ada tiga jenis lilin yang dikenal di alam, yakni yang berasal dari hewan, tumbuhan atau petroleum atau menieral. Lilin asal hewan yakni malam ( beeswax ) adalah salah satu lilin yang kimianya stabil dan terkenal sepanjang sejarah perdagangan dunia. Malam adalah lilin yang paling baik sedunia dan dihasilkan dari lebah pekerja dariempat pasang kelenjar yang terdapat dibagian samping bawah perut. Puncak sekresi malam adalah saat lebah pekerja berumur dua minggu. Satu komsumsi lebah mengkonsumsi sekitar 10 kg madu untuk menghasilkan 1 kg malam.

Kegunaan terbanyak malam kini adalah untuk kosmetik, pembuatan lilindan industriperlebahan. Pelbagai formula untuk krim, salep, losion cairan pembersih, pomade, lipstick, gincu (rouge), salep dan pelapios pil.Pelbagi perekat, krayon, permen kunyah dan tinta juga mengandung malam.

Titk lebur malam murni berkisar antara 610-690 C ( 142- 156 0 F ). Indeks refraksinya 1,44. Tahanan dielektrisnya 2,9 dan padat jenis 200 C adalah 0,96, lebih ringan dari air. Ia tak larut dalam air dan sdikit larut dalam alkohol dingin. Benzene chloroform, karbon disulfida, eter dan beberapa minyak terbang melarutkan malam komplit. Bau dan rasanya khas redam dan terbakar dengan nyala kuning bersih dan mengeluarkan aroma unik. Malam sering terkontaminasi dengan sdikit polen, propolis dan madu yang meningkatkan padat jenis dan warnanya. Warna malam disebabkan oleh pigmen yang terkandung dalam polen dan propolis dan mungkindari besi oksida yang berkontak dengan metal besi.

Malam adalah campuran bahan kimia organik yang sangat kompleks, terdiri dari 12-14% berantai panjang, rantaian hidrokarbon-ganjil dengan C21-C33. total komponen esternya 64% diantara mono-, di-, dan triester yang mencakup berturut-turut 35,14,dan 3% hidroksi mono- dan poliester, masing-masing 4 dan 8%. Ia jugfa mengandung 12% asam bebas, 3% asam ester dan 6-7% bahan tak teridentifikasi. Alkohol monohidrat adalh C12 hingga C32, diol C24 hingga C32, dan asam C12 hingga C34, dan hidroksi asam C12 hingga C32. gambaran ini hanya melukiskan penyederhanaan yang sangat kompleks saja. (Sihombing,1992)

I.1.2 Pengolahan Malam ( Lilin-lebah, wax )

Pelepasan tutup madu menghasilkan 0,453-0,906 kg (1-2 lb) malam per 43,5 kg (100 lb) madu terekstraksi. Oleh kelarutan titik lebur rendah dan padat jenisnya, malam mudah dipisah dari madu dan benda-benda asing. Setelah madu disaring atau disentrifus setelah dipanen dari sel sarang madu, dengan memanskan sisanya antara 66-710 C (150-1600 F) meleburkan malam dan mengapung di atas sisa madu, dan setelah didinginkan malam mudah diperoleh. Pelbagai model alat pengolahan madu untuk melepas madu dari sel sarang madu yang pada dasarnya semua menggunakan titik lebur dan padat jenis. Karena madu maupun malam dapat rusak oleh pemanasan berlebih, pengontrolan temperatur peralatan yang tepat sangat dibutuhkan. Janganlah malam dipanaskan melebihi 850 C karena warna akan berubah.

Cairan malam dapat disipon, disaring, atau dituang ke cetakan. Benda-benda asing seperti kotoran, debu, polen, propolis, dan resin akan mengendap di bagian bawah tangki atau cetakan. Bila diingini malam yang berkualitas tinggi, residu yang disebut slum gum harus disingkirkan. Ada pengolah malam yang akan membelinya dan harganya tergantung dari kadar malam yang masih mungkin diperoleh kembali.

Yang lebih banyak terkait adalah sarang yang telah tua. Dari sarang tua mungkin dapat diperoleh kembali 0,9006-1,3 kg malam dari satu peti sarnag tua atau sarang rusak. Sisiran saranf tetasan akan terisi dengan kulit tetasan dan pupa muda selain dari kotoran-kotoran lain, polen dan propolis. Melelehkan sisiran dalam air panas lalu disaring dengan saringan berlubang halus atau kain saring akan memisahkan debu dari malam. Setelah dingin, malam dapat diangkat dari permukaan air. Debu dapat dicuci dengan air panas beberapa kali untuk mendapatkan malam tambahan.

Alat pengolah yang besar membilas sisiran dengan air panas dalam kantung besar mengakibatkan malam mengapung di permukaan air dan mematangkan bahan lilin dari air panas atau uap panas. Pengekstraksian dari panas teoritis baik, namun hanya sekitar 50% malam dapat diperoleh dari sisiran. (Sihombing,1992)

II. Sediaan dengan pelepasan terkontrol

Tujuan utama dari suatu produk obat pelepasan terkontrol adalah untuk mencapai suatu efek terapetik yang diperpanjang disamping memperkecil efek samping yang tidak diinginkan yang disebabkan oleh fluktuasi kadar obat dalam plasma (Shargel dan Andrew,1998)

Istilah pelepasan terkontrol menunjukan bahwa obat dilepaskan dari sediaan sesuai dengan yang direncanakan dan pelepasannya lebih lambat dari sediaan konvensional sehingga akan memperpanjang kerja obat. (Ansel,1989)

Sistem sustained release termasuk sistem penyampaian obat yang menghasilkan pelepasan obat yang lambat selama priode waktu yang panjang. Jika sistem berhasil mempertahankan level obat konstan dalam darah atau jaringan target, disebut conrolled release. Jika tidak berhasil, tapi memperpanjang lama kerja melebihi dari yang dicapai oleh penyampaian secara konvensional, disebut prolonged release (Longer,1990)

Sedian conrolled release (A); prolonged release(B);sediaan konvensional(C)

Suatu produk obat sustaind realease dirancang untuk melepaskan suatu dosis terapetik awal obat (dosis muatan) yang diikuti oleh suatu pelepasan obat yang lebih lambat dan konstan. Laju pelepasan dosis penjagaan dirancang sedemikian agar jumlah obat yang hilang dari tubuh melalui eliminasi diganti secara konstan. Dengan produk sustained release konsentrasi obat dalam plasma yang konstan dapat dipertahankan dengan fluktuasi yang minimal.

Suatu produk obat prolonged action dirancang untuk melepaskan oabat secara lambat dan memberi suatu cadangan obat secara terus menerus selama selang waktu yang panjang. Produk obat prolonged action menjegah absorbsi obat yang sangat cepat, yang dapat mengakibatkan konsentrasi puncak obat dalam plasma yang sangat tinggi. Sebagian besar produk prolonged action memperpanjang lama kerja tetapi tidak melepaskan obat pada suatu laju yang tetap (Shargel dan Andrew,1998)

II.1. Kebaikan dan keburukan sediaan pelepasan terkontrol

II.1.2 Kebaikan sediaan pelepasan terkontrol

Sediaan pelepasan terkontrol dapat menahan pelepasan obat hingga frekuensi pemakaian obat menjadi lebih sedikit bila dibandingkan dengan sediaan konvensional sehingga memudakan penderita dan mengurangi resiko kesalahan atau kelupaan. Aktifitas obat meningkat baik siang maupun malam hari, mengurangi frekuensi kadar obat, mengurangi efek toksis, efek samping dan akumulasi obat pada pengobatan jangka panjang (Shargel dan Andrew,1998)

II.1.3 Keburukan sediaan pelepasan terkontrol

Keburukan sediaan ini adalah jika sediaan ini gagal dilepas pada waktu yang tepat akan mengakibatkan terjadinya kelebihan dosis. Adanya suatu reaksi samping obat atau keracunan obat, maka menghilangkan obat dari dalam tubuh menjadi lebih sulit. Adanya interaksi obat dan isi saluran cerna juga perubahan pergerakan saluran cerna menyebabkan absorbsi obat tidak menentu atau berubah-ubah.

(Shargel dan Andrew,1998)

II.2.Metode untuk mengontrol pelepasan zat aktif dari suatu sediaan

II.2.1 Metode melibatkan difusi

Difusi merupakan pergerakan molekul obat dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Pendekatan metode yang melibatkan difusi antara lain :

a. Penyalutan inti obat dengan polimer yang tidak larut air

Obat yang berdifusi melalui membran dan bertukar dengan cairan disekelilingnya. Contohnya: mikroenkapsulasi obat

b. Obat padat didispersikan dalam matriks yang tidak larut

Kecepatan pelepasan obat tergantung pada kecepatan difusi obat dan bukan kecepatan pelarutan obat. Contoh : matriks plastik metil-akrilat metakrilat yang berisi obat.

c. Inti obat disalut dengan membran yang larut sebagian

Pelarutan sebagian dari membran akan memberikan proses difusi yang mendesak obat keluar melalui pori yang terbentuk. Contoh: polimer penyalut yang terdiri dari etil selulosa dan metil selulosa.

Gambar 2. Pelepasan obat dengan metode yang melibatkan difusi

Keterangan

A. penyalutan inti obat dengan polimer yang tidak larut air

B. obat padat didespersikan dalam matriks yang tidak larut air

C. inti obat disalut dengan membran yang larut sebagian

II.2.2 Metode melibatkan disolusi

  1. Disolusi obat yang terlepas dikontrol oleh matriks yang terkikis perlahan-lahan. Contohnya obat yang dimikroenkapsulasi dimana obat terdistribusi merata dalam matriks terkikis perlahan-lahan.
  2. Disolusi obat yang terlepas dikontrol melalui ketebalan dan kecepatan disolusi lapisan barier membran. Dalam hal ini, obat yang disalut dengan suatu ketebalan penyalut akan terdisolusi perlahan-lahan. Pengikisan yang sempurna dari penyalut akan memberikan peranan penting dalam pelepasan obat segera. Jika sediaan terdiri dari tiga atau empat ketebalan berbeda diharapkan diperoleh sediaan kerja berulang. Contoh obat yang dienkapsulasi dimana seluruh obat didalam inti.

Gambar 3. Pelepasan obat dengan metode yang melibatkan disolusi

Keterangan

A. mikrokapsul obat terdistribusi merata dalam matriks dan salutnya dapat terkikis

B. Inti obat disalut dengan bahan yang larut secara lambat

II.3. Dasar-dasar penetapan kadar

Dua langkah utama dalam analisis adalah identifikasi dan estimasi komponen-komponen suatu senyawa. Lengkah identifikasi dikenal sebagai analisis kualitatif sedangkan langkah estimasinya adalah analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif dapat diklasifikasikan dengan dasar analilisnya. Pertama seseorang dapat membagi atas metode-metode yang mencakup metode-metode analisis klasik seperti gravimetri atau volumetri dan yang mencakup instrumentasi canggih, kemudian dikenal sebagi metode analisis modern.

Bila komponen yang analisis terdapat dalam konsentrasi yang sangat rendah, maka digunakan metode-metode optik atau metode spektroskopi seperti UV visibel, Spektroskopi IR, dengan penghamburan scattering, atau spektroskopi emisi dan absorpsi. (Khopkar,1990)

II.3.1 Spektrofotometri

Spektrofotometri serapan merupakan pengukuran suatu interaksi antara radiasi elektromagnetik dan molekul atau atom dari suatu zat kimia. Teknik yang sering digunakan dalam analisis farmasi meliputi spektroskopi serangan ultraviolet, cahaya tampak, inframerah, dan serapan atom. Jangkauan gelombang yang tersedia untuk pengukuran membentang dari panjang gelombang pendek ultraviolet sampai ke inframerah. Untuk kemudahan pengacuan, daerah spektrum ini pada garis besarnya dibagi dalam daerah ultraviolet (190 nm hingga 380 nm),daerah cahaya tampak (380 nm hingga 780 nm), daerah inframerah dekat (780 nm hingga 3000 nm) dan daerah inframerah (2,5 µm hingga 40 µm atau 4000 cm-1 hingga 250 cm-1).

Daya dari suatu berkas radiasi akan berkurang sebanding dengan jarak yang ditempuhnya dalam medium penyerap. Daya tersebut juga berkurang sebanding dengan kadar molekul atau ion yang menyerap dalam medium tersebut.

Penurunan daya radiasi monokromatis yang melalui medium penyerap yang homogen dinyatakan secara kuantitatif dalam hukum Lambert-Beer,

Log 10 (1/T) = A = a b c

Dimana : A = serapan (logaritma dasar 10 dari kebalikan transmitans)

a = absorbtivitas

b = panjang sel dalam cm

c = konsentrasi dalam sampel (Ditjen POM, 1995)

II.3.2 Spektofotometri ultraviolet

Pada umumnya senyawa yang hanya mempunyai transisi σ → σ* mengapsorbsi cahaya pada panjang gelombang sekitar 150 nm, sedangkan senyawa yang mempunyaio transisi n → σ* dan π → π* (disebabkan kromofor tidak terkonjugasi) menagbsorpsi cahaya pada panjang gelombang sekitar 200 nm. Senyawa yang mempunyai transisi π → π* mengabsorpsi cahaya di daerah ultraviolet kuarsa (200-400 nm). Daerah ultraviolet vakum (daerah dibawah 200 nm) tak akan ditinjau secara terperinci, karena daerah yang sukar untuk memperoleh spektrum dan informasi yang dapat diperoleh melalui struktur molekul organik sedikit sekali. Spektrum ultraviolet senyawa biasanya diperoleh dengan melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu (cahaya monokrom ekawarna) melalui larutan encer senyawa tersebut dalam pelarut yang tidak menyerap misalnya, air, etanol, heksana (Creswell dkk, 1982).

H. METODOLOGI PELAKSANAAN PROGRAM

a. Pengolahan Lilin lebah

Pengolahan dan pemurnian lilin lebah yang dilakukan dengan menggunakan prinsip titik lebur dan padat jenis. Dari sarang lebah yang telah dipanen, kemudian disentrifuse sehingga madu terpisah dari sisirannya, kemudian sisirannya dipanaskan pada suhu antara 66-71°C (150-160°F) sehingga akan meleburkan lilin lebah dan mengapung diatas sisa madu. Setelah dingin malam mudah diperoleh. Karena madu maupun malam dapat rusak oleh pemanasan berlebih, pengontrolan temperatur yang tepat sangat dibutuhkan. Janganlah lilin lebah dipanaskan melebihi 85°C karena warna akan berubah.

Pelepasan tutup madu menghasilkan 0,453-0,906 kg malam per 43,5 kg maduterekstraksi. Dari sarang tua mungkin dapat diperoleh kembali 0,906 – 1,3 kg lilin dari satu peti sarang tua atau sarang rusak ( Sihombing,1997 ).

b.Pemurnian Lilin Lebah

Cairan lilin lebah dapat disipon, disaring atau dituang ke cetakan. Benda-benda asing seperti kotoran, debu, polen, propolis dan resin akan mengendap dibagian bawah cetakan. Bila diingini lilin lebah berkualitas tinggi, residu yang disebut slum gum harus disingkirkan.

c. Pembuatan Sediaan Pelepasan Terkontrol

Sediaan pelepasan terkontrol dibuat dalam berbagai formula, dimana formula bentuk sediaan pelepasan terkontrol dibuat dengan variasi jumlah lilin lebah yang digunakan sebagai matriks. Zat yang akan didispersikan kedalam lilin lebah yang digunakan sebagi matriks dihomogenkan dan diisikan kedalam wadah kapsul.

d.Uji Disolusi

Uji disolusi dilakukan dengan alat paddle. Tiap-tiap uji terhadap sediaan kapsul dilakukan sebanyak 5 kali. Sediaan yang telah selesai dibuat diberi alat penahan kemudian dimasukkan kedalam wadah berisi 900 ml medium yang bersuhu 37 ± 0,5 °C. Kemudian diatur jarak paddle 2,5 cm diatas dasar wadah dan paddle diputar dengan kecepatan 100 putaran permenit. Interval waktu pengambilan aliquat 5, 10, 15, 30, 60, 90, 120, 150, 180, 210, 240, 300, 360, 420, dan 480 menit. Setelah pemutaran dipipet 5 ml aliquat dan diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum dengan menggunakan medium yang sama sebagai blanko. Volume cairan disolusi diusahakan tetap dengan menambahkan 5 ml medium. Jumlah zat yang terdisolusi dihitung dengan persamaan regresi kurva kalibrasi.

I. JADWAL KEGIATAN PROGRAM

Program ini dilaksanakan selama 6 bulan, dimulai pada bulan November 2007 s/d April 2008 dengan jadwal pelaksanaan program sebagai berikut :

NO

Kegiatan

Bulan

I

II

III

IV

V

VI

1

Pengolahan dan pemurnian lilin lebah

2

Orientasi

3

Prosedur kerja

4

Pengolahan data

5

Penyusunan laporan

6

Pengadaan laporan

J. NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA KELOMPOK

1. KETUA PELAKSANA KEGIATAN

a. Nama Lengkap : Ya’qub Alfin

b. NIM : 040804030

c. Fakultas/Program Studi : FF/Farmasi

d. Waktu Untuk Kegiatan PKMP : 24 jam/Minggu

2. ANGGOTA PELAKSANA

Aggota I

a. Nama Lengkap : Bayu Eko Prasetyo

b. NIM : 030804003

c. Fakultas/Program Studi : FF/Farmasi

d. Waktu Untuk Kegiatan PKMP : 24 jam/Minggu

Aggota II

a. Nama Lengkap : Nur Aira Juwita

b. NIM : 050804092

c. Fakultas/Program Studi : FF/Farmasi

d. Waktu Untuk Kegiatan PKMP : 24 jam/Minggu

K. NAMA DAN BIODATA DOSEN PEMBIMBING

1. Nama Lengkap Dan Gelar : Dr. Karsono, Apt

2. Golongan, Pangkat dan NIP : IIIC/ Penata /131 415 891

3. Jabatan Fungsional : Staff Pengajar

4. Jabatan Struktural : -

5. Fakultas/Program Studi : FF/Farmasi

6. Perguruan Tinggi : Universitas Sumatra Utara

7. Bidang Keahlian : Teknologi Formulasi

8. Waktu Untuk Kegiatan PKMP : 24 jam/minggu

L. BIAYA

No

Pos Biaya

Volume Unit

Jumlah

@ (Rp)

Jumlah Total (Rp)

1

Honorium

a. Dosen

1 org x 6 bln

200.000

1.200.000

b. Mahasiswa

3 org x 6 bln

150.000

2.700.000

Subtotal

3.900.000

2

Bahan dan Peralatan

- Sampel sarang lebah

1 sisiran

50.000

50.000

- Sewa sentrifiuse buatan

1 unit

50.000

50.000

- Medium lambung buatan

10 liter

15.000

150.000

- Aquadest

30 liter

800

24.000

- Termometer

1 unit

71.000

71.000

- Maat pipet 5 ml

2 unit

10.000

20.000

- Penahan kapsul

2 unit

5000

10.000

- Beaker Glass 1 liter

2 unit

50.000

100.000

- Masker

4 unit

1.500

6.000

- Sarung Tangan

4 unit

2.500

10.000

- Cawan Porselen

2 unit

7.000

14.000

- Kertas Perkamen

2 bungkus

1.000

2.000

- Spatula

1 unit

5.000

5.000

- Batang pengaduk

2 unit

4.000

8.000

- Penyaring lilin

2 unit

5.000

10.000

- Stop watch

1 unit

25.000

25.000

- Tissu lensa

1 bungkus

15.000

15.000

- Tissu gulung

1gulung

5.000

5.000

- Gelas ukur 25 ml

1 unit

42.000

42.000

subtotal

500.000

3

Akomodasi

-Pemakaian laboraturium

-

-

200.000

- Konsumsi

4 org x 10 hari

15.000

600.000

subtotal

800.000

4

Dokumentasi

- Film

1 rol

25.000

25.000

- Cuci cetak

1 rol

25.000

25.000

subtotal

50.000

5

Publikasi

- Penyusunan Laporan

-

-

200.000

- Penggandaan laporan

10 copy

15.000

150.000

Subtotal

350.000

6

Seminar Hasil Penelitian

- Materi seminar

-

-

200.000

- Konsumsi

-

-

200.000

Subtotal

400.000

Total Biaya

6.000.000

Terbilang (Enam juta rupiah)

M. LAMPIRAN

1.DAFTAR PUSTAKA

Abdou,H., (1989). Dissolution, Bioavaibility and Bioequivalence.

Pennsylvenia : Mack Publishing company. Page 11-17

Ansel, Howard.C., (1989). Pengantar Bentuk Sedian Farmasi. Edisi IV.Jakarta :

UI Press.Halaman.287-290

Creswell, Clifford J., Runquist, Olaf A., dan Campbell, Malcolm M. (1982).

Analisis Spektrum Senyawa Organik. Bandung : Penerbit ITB.Halaman.25,42

Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta : Depkes RI.

487-488

Khopkhar, S.M., (1990). Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI Press.Halaman.3,5

Longer, M.A., (1990). Sustained-Release Drug Delivery Systems. In : Remington’s

Pharmaceutichal Science. Gennaro, A.R., (Editor).18th edition. Pensylvania :

Mack Publishing Company. Page 459

Sihombing, D.T.H., (1992). Ilmu Ternak Lebah Madu. Cetakan Pertama. Yogyakarta:

UGM Press. Halaman. 7,147-148

Thombre,Avinash.G and Jhon R. Cardinal. (1996). Biopolymers for Controlled

Drug Delivery in Encyclopedia of pharmaceutical Technology. Volume

2. New York. Marcel Dekker Inc. Page 61-63

Yahya, H., (2006). Artikel - LEBAH MADU.htm. . http://...@harunyahya.com

2. DAFTAR RIWAYAT HIDUP

KETUA PELAKSANA KEGIATAN

Nama : Ya’qub Alfin

Tempat/Tanggal lahir : Pasir putih, 18 Januari 1986

Alamat : Jl.Pembangunan Gg.Merdeka No 5, Dr.Mansyur, Medan.

Agama : Islam

Golongan Darah : O

Status : Belum kawin

Jenis Kelamin : Laki-laki

Pekerjaan : Mahasiswa

Nama Orang Tua

a. Ayah : Muhammad Ramlan

b. Ibu : Hj.Mardiah Lbs

Pendidikan

a. Asal SD : SD Negeri 056027 Pasir putih Tamat tahun : 1998

b. Asal SLTP : MTsN Tanjung pura Tamat tahun : 2001

c. Asal SMU : SMA Dharma Patra, P.Brandan Tamat tahun : 2004

Pengalaman Bekerja

Asisten Laboratorium Teknologi Formulasi Tablet, FF USU : Tahun 2007 /2008

ANGGOTA PELAKSANA

ANGGOTA PELAKSANA I

Nama : Bayu Eko Prasetyo

Alamat : Jl.Pembangunan Gg.Merdeka No 5, Dr.Mansyur, Medan

Agama : Islam

Golongan Darah : B

Status : Belum kawin

Jenis Kelamin : Laki-laki

Pekerjaan : Mahasiswa

Nama Orang Tua

a. Ayah : Sudiyono

b. Ibu : Supeni

Pendidikan

a. Asal SD : SD N 020275 Binjai Tamat tahun : 1997

b. Asal SLTP : SMP N 1 Binjai Tamat tahun : 2000

c. Asal SMU : SMA N 1 Binjai Tamat tahun : 2003

Pengalaman Bekerja

Asisten Laboratorium Biofarmasi, FF USU : Tahun 2006/2007

ANGGOTA PELAKSANA II

Nama : Nur Aira Juwita

Alamat : T.Mulia, 16 Januari 1988

Agama : Islam

Golongan Darah : AB

Status : Belum kawin

Jenis Kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Mahasiswa

Nama Orang Tua

a. Ayah : Abd, Rasyid

b. Ibu : Nur Ainun

Pendidikan

a. Asal SD : SDN 060900 Medan Tamat tahun : 1999

b. Asal SLTP : SLTPN 2 Medan Tamat tahun : 2002

c. Asal SMU : SMUN 13 Medan Tamat tahun : 2005

Pengalaman Bekerja

-

DOSEN PEMBIMBING

Identitas pribadi

a. Nama lengkap dan gelar : Dr. Karsono, Apt

b. Tempat/tanggal lahir : Yogyakarta / 09-09-1954

c. Golongan/Pangkat/NIP : IIIC/ Penata /131 415 891

d. Jabatan :-

e. Alamat : Jl. Bunga Wijaya Kesuma Gg. XV No.6, P.Bulan

0618213947

Pendidikan

Stratum

Tgl/Thn

Tempat (Universitas/Kota)

Judul Disertasi/Tesis/Skripsi

S3/Sp2

1991

USM, Penang, Malaysia

Rekabentuk sistem baru pengahantaran obat polimer bioadesive

S2/Sp1

-

-

-

Profesi

(Apoteker)

1983

Fak.Farmasi UGM Yogyakarta

S1

1982

Fak.Farmasi UGM Yogyakarta

Penyalahgunaan Diazepam Di DI. Yogyakarta

Mata Kuliah Yang diasuh saat ini.

1. Menurut SK terakhir:

a. Biofarmasi

b. Farmakokinetika (S2Farmasi)

c. Farmakokinetika

d. Penyampaian Obat Terkontrol

e. Pengembangan Produk

f. Statistika

Penelitian yang dilakukan sesuai bidang ilmu yang diasuh 5 tahun terakhir (2002 s.d. 2007)

No.

Tahun

Judul

Jenis

Peran

1

2003

Sediaan Pelepasan Terkontrol : Formulasi dan Uji Disolusi Ketopropen

2

2004

Sediaan Pelepasan Terkontrol : Uji Disolusi Ketopropen Dalam Matriks Kitosan

3

2004

Sediaan Pelepasan Terkontrol : Pengaruh PEG 6000 Dalam Matriks Kitosan Terhadap Pelepasan Ibuprofen

4

2005

Polimer Bioadhesif : Uji Formulasi Topical Spray Kloramfenikol Dalam Matriks Polisianoakrilat Terhadap Penyembuhan Luka Sayat Ayam.

5

2005

Sediaan Pelepasan Terkontrol : Pengaruh Na-CMC Dalam Matriks Kitosan Terhadap Pelepasan Ketoprofen

Karya Ilmiah Sesuai Bidang Ilmu yang Dipublikasikan di Jurnal Nasional dan Internasional 5 tahun terakhir

No.

Judul Karya Ilmiah

Nama Jurnal Nasional/Internasional

Thn/No/Hal.

1

Uji Ketersediaan Hayati Bandingan Tablet Karbamazepin Dari Merk Dagang Yang Berbeda

Media Farmasi

2004

2

Sistem Penyampaian Obat Trans Mukosal Menggunakan Polimer Bioadhesif

Media Farmasi

2004

3

Sistem Penyampaian Obat Transcolon Melalui Pendekatan Farmaseutik

Media Farmasi

2005

4

Matriks Nata de Coco : Uji Pemerangkapan Dan Laju Disolusi Aspirin

Media Farmasi

2005

Menjadi Promotor/Co-Promotor/Penguji S2/S3 5 tahun terakhir (2002 s.d 2007)

Status

Waktu/Tempat

Provendus/Mahasiswa

Judul Tesis/Disertasi

Promotor S2

15-11-2003

SPS-USU

Samran

NIM: 017014008

Sediaan pelepasan terkontrol: Kitosan sebagai matriks sediaan tablet Press-Coating

Promotor S2

08-12-2006

SPS-USU

Sumaiyah

NIM: 037014007

Pembuatan sediaan Fero Sulfat dengan menggunakan kapsul kalsium alginatyang tidak memberikan efek iritasi pada lambung kelinci.

Promotor S2

01-03-2007

SPS-USU

Rahmi Hutabarat

NIM: 047014007

Uji antiagregasi trombosit dan keamanan terhadap saluran cerna dari aspirin dalam kapsul alginat